Sayuran Segar dari Kawasan Penyangga IKN Masuk Pasar KIPP

NUSANTARA – Strategi penguatan rantai pasok hasil pertanian petani lokal diterapkan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) dalam siklus perdagangan di Pasar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Langkah tersebut bertujuan memberikan ruang pemasaran langsung bagi petani lokal di kawasan delineasi IKN maupun wilayah penyangga untuk menjual hasil hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang. Selain menjaga stabilitas harga pangan, kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan lokal.

Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono, mengatakan pihaknya berupaya menarik produk pertanian dari kawasan IKN dan daerah penyangga langsung ke pasar-pasar yang berada di wilayah Nusantara, seperti Pasar Segar Sepaku dan Pasar KIPP.

“Petani selama ini hanya fokus pada produksi. Kami ingin mengembangkan mental mereka sebagai petani yang juga menjadi pengusaha. Mereka langsung memasok sendiri produk-produk itu ke pasar dan memperdagangkannya,” ujarnya.

Menurut Lenggono, pola tersebut juga mampu memperpendek jalur logistik sehingga kualitas dan kesegaran produk pertanian tetap terjaga saat sampai ke tangan konsumen.

Baca Juga:   Pedagang Lega, Pasar Rabu Kini Punya Lokasi Aman

“Selama ini banyak produk pertanian dari Samboja dan Sepaku dibawa ke Balikpapan terlebih dahulu, lalu kembali lagi ke pasar-pasar di Sepaku. Rantai pasok seperti ini yang sedang kami perbaiki,” jelasnya.

Kebijakan tersebut mulai terlihat di Pasar KIPP. Di area los basah terdapat 15 tenant sayuran yang sebagian besar menjual produk hasil pertanian lokal.

Salah satunya adalah Daeli Otniel yang menjual sayuran hasil budidaya sendiri dari pekarangan rumahnya di RT 3 Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam.

“Kalau daun-daunan dan sayuran itu hasil tanaman sendiri. Kami memang bertani memanfaatkan pekarangan rumah. Sayuran yang dijual juga sudah melalui uji laboratorium,” tutur Otniel.

Karena menjual langsung hasil produksi sendiri, harga sayuran yang ditawarkan relatif lebih terjangkau. Sawi dijual Rp5 ribu per ikat, sawi batang Rp10 ribu per ikat, pakis Rp5 ribu per ikat, sementara tempe dibanderol Rp5 ribu per buah.

Otniel bersama istrinya, Jenni Sriyanti, baru sekitar satu bulan mengisi lapak di Pasar KIPP melalui Toko Gabriel. Untuk memperluas pemasaran, mereka juga membuka layanan pesan antar kepada pelanggan.

Baca Juga:   Basuki Dorong Produk UMKM Mentawir Masuk Agenda Resmi Otorita

“Biar memudahkan sekaligus membentuk jaringan pelanggan los kami,” ujar Jenni.

Jenni berharap Otorita IKN dapat menghadirkan kegiatan atau event khusus yang memberi ruang lebih luas bagi pedagang sayuran segar untuk mempromosikan produknya.

“Minta dibuatkan event supaya dagangan kami bisa lebih dikenal luas dan punya ruang pemasaran yang lebih besar,” katanya.

Keberadaan pedagang lokal di Pasar KIPP juga mendapat respons positif dari pembeli. Salah seorang konsumen, Resti, mengaku terbantu karena kebutuhan sehari-hari kini lebih mudah diperoleh dengan jarak yang dekat.

“Sangat terbantu. Belanja jadi dekat. Tadi kami beli sawi dan jeruk, sawinya segar sekali,” ujarnya.

Sebagai informasi, Pasar KIPP memiliki 43 tenant los basah, 33 tenant los kering, serta 17 tenant foodcourt dan kios yang melayani kebutuhan masyarakat di kawasan IKN.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img