BALIKPAPAN – Suasana malam di kawasan Taman 3 Generasi Balikpapan belakangan sering diwarnai berkumpulnya sejumlah anak muda. Penampilan mereka mungkin terlihat seperti komunitas motor biasa yang menghabiskan waktu malam bersama. Namun di balik itu, enam pemuda bernama Rayhan, Kholis, Rizal, Imario, Erfan, dan Rizki ternyata menjalankan aksi sosial untuk membantu masyarakat.
Melalui komunitas bernama Pos Pengaduan 24434, mereka menyediakan layanan pengawalan bagi pengendara motor yang harus pulang sendirian pada malam hari, terutama perempuan.
Rayhan mengatakan, kelompok mereka ini rutin berpatroli dan merespons permintaan bantuan warga yang masuk melalui pesan langsung akun Instagram mereka.
“Berbagai permintaan pengawalan datang dari banyak wilayah di Balikpapan. Ada juga orang tua juga menghubungi kita, karena khawatir anaknya pulang malam habis bekerja,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Kegiatan mereka mulai dikenal luas usai video pengawalan yang diunggah melalui akun media sosial @swagyboy24434 viral di sejumlah jejaring. Dalam unggahan tersebut, tampak tim ini mendampingi seorang pengendara melintasi jalan yang minim penerangan hingga tiba dengan selamat di rumah.
Dalam menjalankan aksinya, mereka membagi tugas layaknya tim pengamanan profesional. Ada anggota yang berada di depan untuk membuka jalan dan memandu rute perjalanan.
Sementara anggota lain bertugas di belakang sebagai sweeper guna memastikan situasi tetap aman dan tidak ada pihak mencurigakan yang mengikuti. Selain itu, ada pula anggota yang mendokumentasikan perjalanan sebagai bentuk laporan dan bukti pelayanan mereka kepada masyarakat.
Rayhan menjelaskan, gerakan tersebut lahir dari rasa kepedulian terhadap kondisi keamanan warga yang kerap merasa waswas saat berkendara malam hari.
“Dasarnya adalah saling membantu sesama masyarakat. Kami juga ingin ikut mendukung upaya kepolisian dalam menjaga keamanan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, timnya pernah menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengantar warga, mulai dari kawasan Jalan MT Haryono hingga Teritip dengan jarak sekitar 28 kilometer. Kebanyakan warga yang meminta bantuan merupakan pekerja malam dan pengendara yang merasa tidak aman saat melintas sendirian.
“Selain menerima permintaan pengawalan, kita ini juga rutin melakukan patroli mandiri ke sejumlah titik yang dianggap rawan berdasarkan laporan masyarakat di media sosial, termasuk kawasan Gunung Bugis,” tambahnya.
Meski begitu, Rayhan mengingatkan warga agar tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, banyak kabar yang belum tentu benar dan justru memicu keresahan di tengah masyarakat.
Ia mencontohkan, tim mereka pernah mengecek langsung informasi dugaan gangguan keamanan di kawasan KM 8. Setelah dilakukan penyisiran, situasi di lokasi dipastikan aman dan kabar yang beredar ternyata tidak benar.
“Jangan langsung percaya semua informasi di media sosial. Harus dipastikan dulu kebenarannya karena banyak juga berita hoaks,” tutupnya.
Penulis: Aprianto





