BALIKPAPAN – Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, suasana di Pasar Blauran Klandasan, Balikpapan Kota, tidak seramai pada tahun-tahun sebelumnya. Kios-kios penjual seragam sekolah yang biasanya dipadati orang tua siswa menjelang hari pertama masuk sekolah kini tampak lengang.
Para pedagang mengaku penjualan seragam sekolah mengalami penurunan drastis sejak pemerintah menjalankan program pembagian seragam gratis bagi peserta didik baru di jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Salah seorang pedagang seragam, Helmi, mengatakan omzet penjualannya tahun ini turun hingga 50 persen dibandingkan musim penerimaan siswa baru pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, lima hari hingga tiga hari menjelang masuk sekolah biasanya menjadi puncak keramaian pembeli. Namun, kondisi tersebut tidak lagi terjadi karena sebagian besar orang tua memilih menunggu pembagian seragam dari pemerintah.
“Biasanya menjelang masuk sekolah ramai sekali. Sekarang jauh berkurang, paling yang datang hanya membeli satu stel untuk cadangan,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Helmi menyebut harga seragam yang dijual di tokonya masih relatif terjangkau. Seragam SD dibanderol mulai Rp 150 ribu, seragam SMP Rp 180 ribu, dan seragam SMA/SMK sekitar Rp 200 ribu per stel.
Meski demikian, harga bukan lagi menjadi faktor utama yang memengaruhi penjualan. Ia menilai kebijakan seragam gratis menjadi penyebab utama menurunnya jumlah pembeli.
“Ya sejak program seragam gratis itu kita mulai sepi yang beli,” tambahnya sambil tersenyum.
Sementara itu pedagang baju seragam sekolah lainnya, Yudi, berharap Pemerintah Kota Balikpapan dapat melibatkan pelaku usaha lokal dalam program pengadaan seragam sekolah gratis. Dengan demikian, manfaat program tetap dirasakan masyarakat sekaligus membantu menjaga keberlangsungan usaha kecil dan menengah yang bergantung pada penjualan seragam sekolah.
“Mau sih kita ini bisa di libatkan oleh Pemerintah. Mungkin mereka beli dari kita, seperti itu,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah orang tua siswa masih ada yang memilih membeli seragam secara mandiri di Pasar Klandasan. Mereka menilai kualitas bahan seragam yang tersedia di pasaran lebih sesuai dengan kebutuhan, sekaligus bisa langsung digunakan tanpa harus menunggu proses distribusi dari pemerintah.
Selain faktor kualitas, ketersediaan ukuran dan kemudahan mendapatkan seragam juga menjadi alasan sebagian orang tua tetap berbelanja di pasar.
“Cari buat SMP. Kalau yang di bagi itu biasanya lama ya dan kualitasnya kurang. Jadi yang ini buat ganti-ganti,” ujar Via, orang tua murid.
Penulis: Aprianto





