spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Perang Sarung Makan Korban, Kapolresta Balikpapan Ajak Orang Tua Awasi Anak-anaknya

BALIKPAPAN – Aksi anak-anak hingga remaja terkait perang sarung di Kota Balikpapan kian meresahkan. Di mana yang terbaru, seorang bocah yang masih SD berusia 9 tahun menjalani operasi pengangkatan bola mata lantaran mendapat luka serius.

Kapolresta Balikpapan, AKBP Anton Firmanto angkat bicara mengenai fenomena perang sarung di Kota Balikpapan dan turut menjadi perhatian kepolisian.

“Saya sudah menyampaikan kepada seluruh jajaran, baik di level Polresta maupun Polsek jajaran untuk meningkatkan patroli dan pengawasan selama 24 jam penuh,” ujarnya, Senin (3/4/2023).

Kapolresta Balikpapan menjelaskan, dengan patroli kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD), gangguan masyarakat selama bulan Ramadan, termasuk perang sarung dapat ditekan. “Jangan sampai ada perang sarung, tawuran, penjualan miras dan lain-lain,” jelasnya.

Soal titik rawan perang sarung, Anton mengaku baru mendeteksi dua kejadian selama bulan Ramadan. Angka yang masih rendah membuat Anton optimistis pihak kepolisian akan lebih mudah melakukan penanganan.

“Kami akan all-out untuk mengamankan bulan Ramadan, supaya masyarakat bisa merasa aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah,” tambahnya.

Baca Juga:   Ibu dan Anak di Balikpapan Kompak Mencuri

Di sisi lain, Anton Firmanto memastikan proses hukum terhadap terduga pelaku penganiayaan terhadap korban perang sarung tetap berjalan. Sepanjang korban melaporkan kejadian ini ke Polresta Balikpapan.

“Kami menunggu laporan (korban) saja, kalau memang nanti dilaporkan maka akan kami tindaklanjuti,” tegasnya.

Kapolresta juga mengimbau para orangtua untuk mengawasi anak-anaknya, khususnya pada jam-jam rawan selepas tarawih maupun menjelang subuh. “Sehabis ibadah minta anak-anak segera pulang dan berdiam di rumah,” ujar Anton lagi.

Ia juga meminta orangtua untuk mengawasi ke mana sang anak pergi, dengan siapa dan apa kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Sebab, kata Anton, keluarga dan orangtua memiliki peran dominan dalam upaya pencegahan kenakalan remaja.

“Orangtua itu kan melekat ya pengawasannya,” tutupnya. (Bom)

BACA JUGA