Jumat (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.
Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.
Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.
Dan ternyata memang layak dicoba.
Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.

Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.
Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.
Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.
Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.
Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.
Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.
Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.
Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.
Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.
Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.
Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.
Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.

Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.
Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.
Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.
Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.
Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.
Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.
Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.
Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.
Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.
Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.
Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.
Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.
Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.
Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.
Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.
Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.
Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.
Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.
Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.
Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.
Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.





