BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan memberi perhatian khusus terhadap kondisi Waduk Manggar yang terus mengalami pengurangan kapasitas tampung akibat sedimentasi. Berdasarkan hasil kajian terbaru, waduk yang menjadi sumber utama pasokan air baku bagi warga Balikpapan itu kehilangan lebih dari satu juta meter kubik volume tampungan dalam rentang delapan tahun terakhir.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Balikpapan, Rita, mengatakan bahwa penumpukan sedimen di dasar waduk menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan penyediaan air bersih, terutama saat musim kemarau berkepanjangan maupun ketika terjadi fenomena El Nino.
Data hasil pengukuran bathimetri menunjukkan volume kumulatif Waduk Manggar pada 2015 mencapai 16.286.705,44 meter kubik. Angka tersebut menurun menjadi 15.241.648,16 meter kubik pada 2023, atau berkurang sekitar 1.045.057,28 meter kubik.
“Penurunan kapasitas tampungan ini menjadi perhatian serius karena Waduk Manggar merupakan sumber utama air baku bagi masyarakat Balikpapan,” kata Rita, Senin (15/6/2026).
Penyusutan volume bahkan terjadi cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Dari 2021 hingga 2023, kapasitas waduk berkurang sekitar 668.999,70 meter kubik. Berdasarkan analisis yang dilakukan, laju sedimentasi di waduk diperkirakan mencapai 66.569,42 meter kubik setiap tahun.
“Saat ini, Waduk Manggar memiliki kapasitas tampungan normal sekitar 15,24 juta meter kubik. Dari jumlah tersebut, tampungan mati tercatat sebesar 2,72 juta meter kubik, sedangkan tampungan efektif yang dapat dimanfaatkan mencapai sekitar 12,5 juta meter kubik,” jelasnya.
Menurut Rita, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan air bersih terus meningkat. Selain sebagai sumber utama air baku, Waduk Manggar juga berperan sebagai cadangan pasokan air saat terjadi kondisi cuaca ekstrem.
Upaya pengendalian sedimentasi sebenarnya telah dilakukan melalui program normalisasi oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV. Pada 2023, volume sedimen yang berhasil dikeruk mencapai 8.463 meter kubik. Kegiatan serupa berlanjut pada 2024 dengan volume pengerukan 17.420 meter kubik dan pada 2025 sebesar 12.115,14 meter kubik.
Namun, pada tahun 2026 kegiatan pengerukan belum dapat dilaksanakan karena adanya keterbatasan serta efisiensi anggaran di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan bersama BWS Kalimantan IV berkomitmen melanjutkan program normalisasi waduk secara kolaboratif. Pelaksanaan pengerukan nantinya akan mengacu pada hasil survei bathimetri, rekomendasi teknis, serta desain pekerjaan yang telah disusun oleh BWS Kalimantan IV.
Rita menambahkan, tahap awal yang akan dilakukan adalah pengukuran ulang bathimetri guna memastikan besaran sedimentasi terkini sekaligus menentukan lokasi pengerukan yang menjadi prioritas.
“Karena Waduk Manggar masih berada dalam kewenangan BWS Kalimantan IV, maka seluruh pekerjaan akan mengikuti rekomendasi dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan,” tambahnya.
Untuk mendukung pelaksanaan normalisasi, sumber pendanaan direncanakan menunggu kesiapan anggaran dari Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) sebagai perusahaan yang mengelola layanan air bersih di kota tersebut.
“Normalisasi Waduk Manggar merupakan langkah penting dalam menjaga ketahanan air baku daerah. Upaya ini diperlukan agar ketersediaan air bersih tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan laju sedimentasi yang terus terjadi setiap tahun,” tutupnya.
Penulis: Aprianto





