BALIKPAPAN — Pemerintah memastikan bahwa dinamika harga beras yang sempat mengalami tren kenaikan masih berada dalam batas terkendali. Hal tersebut disampaikan Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Bulog Kaltimtara), Musazdin Said, usai pelaksanaan inspeksi dan pemantauan harga di Pasar Induk Pandansari, Balikpapan, pada Minggu (7/6/2026).
Dari hasil pemantauan di lapangan, harga beras kategori medium tercatat berada di angka Rp 15.200 per kilogram, sementara beras premium berada pada kisaran Rp 16.400 per kilogram.
“Harga tersebut dinilai masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional Badan Pangan Nasional,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan terdapat dua instrumen utama yang dijalankan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di daerah, khususnya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Instrumen pertama adalah penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui penugasan kepada Perum Bulog Perum Bulog, yang bertujuan menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
“Hingga awal Juni 2026, dari total target sekitar 15.500 ton beras SPHP yang dialokasikan hingga akhir tahun, realisasi penyaluran telah mencapai sekitar 31 persen atau setara 4.500 ton,” jelasnya.
Sisa distribusi sekitar 10.000 ton akan terus dipercepat melalui berbagai saluran, termasuk distributor, kios pengecer di pasar, Rumah Pangan Kita (RPK), outlet luar pasar, serta Gerakan Pangan Murah (GPM) yang rutin digelar setiap pekan.
Instrumen kedua adalah penyaluran Bantuan Pangan (Bapang) kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Dari target sekitar 6.500 ton, realisasi penyaluran hingga 7 Juni telah mencapai 53 persen atau sekitar 4.600 ton, dengan sisa sekitar 2.200 ton yang ditargetkan selesai pada minggu ketiga bulan berjalan.
“Program bantuan ini dinilai cukup efektif dalam menahan tekanan permintaan di pasar. Setiap keluarga penerima manfaat memperoleh alokasi sekitar 20 kilogram beras per bulan, sehingga secara langsung membantu mengurangi beban pembelian masyarakat, terutama kelompok rentan,” tambahnya.
Pemerintah menilai bahwa kombinasi antara penyaluran SPHP dan Bantuan Pangan telah memberikan dampak nyata di lapangan. Sejumlah pedagang pasar bahkan menyebutkan adanya penurunan permintaan pembelian beras secara langsung, yang mengindikasikan mulai stabilnya kebutuhan rumah tangga.
“Melalui langkah intervensi berkelanjutan ini, pemerintah berharap stabilitas harga beras tetap terjaga, sekaligus memastikan distribusi pangan tetap merata hingga ke wilayah Kalimantan Timur dan Utara,” tegas Musazdin Said.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah agar daya beli masyarakat tetap terlindungi di tengah dinamika harga pangan nasional.
Penulis: Aprianto





