BALIKPAPAN – Usai dinobatkan sebagai TP2DD Kota Terbaik 2025 di wilayah Kalimantan, Pemerintah Kota Balikpapan semakin serius memperluas digitalisasi di berbagai sektor layanan publik. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan layanan perlindungan perempuan, anak, dan keluarga melalui teknologi.
Pelaksana Tugas Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, mengatakan bahwa percepatan digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan layanan yang lebih cepat, inklusif, dan mudah dijangkau kelompok rentan.
“Keberhasilan TP2DD menunjukkan ekosistem digital di Balikpapan berkembang pesat. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat layanan sosial, khususnya perlindungan perempuan dan anak,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
DP3AKB Balikpapan terus mengembangkan sistem pelaporan kekerasan berbasis digital. Melalui kanal pengaduan online, masyarakat kini dapat menyampaikan laporan kapan saja tanpa harus datang langsung ke kantor layanan.
Nursyamsiarni menyebut bahwa pelaporan digital meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan layanan berbasis teknologi, terutama mereka yang merasa kesulitan melapor secara tatap muka.
“Bagi sebagian korban, khususnya perempuan dan anak, melapor langsung tidak mudah. Dengan layanan digital, mereka memiliki ruang aman untuk meminta bantuan,” jelasnya.
Selain memperkuat kanal aduan, DP3AKB juga mengembangkan pelatihan dan peningkatan kapasitas tenaga pendamping serta psikolog melalui sistem digital. Fasilitas ini membantu proses asesmen hingga penanganan kasus menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.
Kolaborasi antar-perangkat daerah turut menjadi faktor penting, ditambah dukungan teknologi dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Kota Balikpapan.
Nursyamsiarni menilai bahwa penghargaan TP2DD semakin memotivasi DP3AKB untuk memperluas inovasi digital dalam setiap lini layanan.
“Percepatan digital membawa manfaat besar untuk efisiensi, mulai dari pencatatan kasus, pemantauan keluarga berisiko, hingga pemberdayaan perempuan,” tambahnya.
Kedepan, DP3AKB menargetkan integrasi data perlindungan perempuan dan anak dengan berbagai sistem layanan kota. Integrasi ini diyakini dapat memperkuat analisis kasus hingga mempercepat proses intervensi di lapangan.
Dengan komitmen digitalisasi yang terus diperkuat, Balikpapan tidak hanya menorehkan prestasi sebagai kota dengan pengelolaan keuangan digital terbaik, tetapi juga bergerak menuju kota yang lebih aman, inklusif, dan ramah terhadap perempuan serta anak.
Penulis: Aprianto




