BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan komitmennya dalam memperkuat fondasi infrastruktur sebagai langkah antisipatif menghadapi dampak perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN). Upaya ini disiapkan untuk menjawab proyeksi lonjakan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, mengatakan bahwa kota yang terus bertumbuh tidak pernah benar-benar merasa cukup terhadap ketersediaan fasilitas publik. Menurutnya, kebutuhan akan layanan dasar akan terus meningkat seiring perkembangan wilayah.
“Kalau berbicara kekurangan, kota yang tumbuh pasti akan selalu merasa kurang. Gedung yang dibangun hari ini, beberapa tahun ke depan bisa jadi sudah tidak mencukupi lagi. Puskesmas, rumah sakit, sekolah, ruang terbuka hijau—semuanya akan terus dituntut untuk bertambah,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Karena itu, Pemkot Balikpapan memilih pendekatan antisipatif dengan membangun lebih awal sebelum kebutuhan menjadi mendesak. Sejumlah fasilitas yang tengah dan akan disiapkan meliputi gedung pelayanan publik, sarana kesehatan, hingga klinik hewan.
“Jangan sampai kita baru membangun ketika kebutuhan sudah sangat mendesak. Selagi ada waktu dan anggaran, kita siapkan fondasinya dari sekarang,” jelasnya.
Seiring operasional penuh IKN yang ditargetkan berjalan pada 2028 dan seterusnya, Balikpapan diperkirakan menjadi salah satu daerah hunian favorit bagi aparatur sipil negara (ASN), anggota DPR RI, hingga pegawai BUMN. Kondisi tersebut diyakini akan mendorong peningkatan kebutuhan hunian, layanan pendidikan, kesehatan, serta ruang usaha.
Di sektor pendidikan, pembangunan sekolah negeri menjadi salah satu fokus perhatian. Meski sempat memunculkan pro dan kontra, terutama dari sebagian pengelola sekolah swasta, pemerintah menilai penambahan fasilitas pendidikan tetap relevan dengan proyeksi pertumbuhan penduduk.
Selain infrastruktur fisik, Pemkot Balikpapan juga mendorong penguatan sektor ketahanan pangan melalui kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DP3). Rahmad menilai, peningkatan kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk harus menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal.
“Dulu kebutuhan ayam dan telur masih banyak dipasok dari luar daerah. Sekarang kebutuhannya meningkat signifikan. Ini momentum agar pelaku usaha lokal bisa menjadi tuan rumah di kota sendiri,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan dunia usaha agar Balikpapan tidak hanya berperan sebagai kota penyangga IKN, tetapi mampu tumbuh sebagai kota maju dengan infrastruktur yang kuat dan ekonomi yang mandiri hingga 2030.
Penulis: Aprianto





