NUSANTARA – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 1 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) saat ini masih belum beroperasi secara maksimal. Meski memiliki kapasitas pengolahan hingga 74 ton sampah per hari, volume sampah yang masuk baru sekitar 7 ton per hari.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengatakan rendahnya volume sampah yang masuk membuat kapasitas fasilitas tersebut belum termanfaatkan secara optimal.
“Sekarang ini TPST itu kapasitasnya 74 ton per hari. Tapi produksi sampah kita di KIPP baru sekitar 7 ton per hari,” ujar Basuki, akhir pekan lalu.
Menurut Basuki, kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi dengan daerah penyangga di sekitar IKN yang masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah.
Otorita IKN pun membuka ruang kerja sama bagi pemerintah daerah yang ingin memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah modern tersebut.
“Misalnya Kutai Kartanegara, kalau mereka punya kesulitan penanganan sampah, bisa dibawa ke sini supaya kita olah,” katanya.
TPST 1 IKN sendiri dirancang sebagai fasilitas pengelolaan sampah terpadu dengan kapasitas pengolahan 74 ton sampah dan 15 ton lumpur per hari. Sistem yang digunakan memisahkan sampah organik dan anorganik untuk diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Sampah organik diolah menjadi kompos berkualitas, sedangkan sampah anorganik didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali. Seluruh proses dirancang menggunakan prinsip Net Zero Emission (NZE) sehingga emisi yang dihasilkan tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Selain itu, fasilitas tersebut juga mengusung konsep residu minimum sehingga jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan semaksimal mungkin.
TPST IKN sejak awal diproyeksikan sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah modern. Fasilitas ini menggabungkan proses pemilahan, pengurangan kadar air, hingga pengolahan berbasis teknologi termal yang lebih ramah lingkungan.
Ke depan, keberadaan TPST diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan pengelolaan sampah kawasan IKN, tetapi juga dapat mendukung penanganan sampah di wilayah penyangga yang berada di sekitar Nusantara. (MK)
Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S.





