BALIKPAPAN – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2026 mulai berdampak pada harga jual hewan kurban di sejumlah daerah, termasuk di Balikpapan. Para pedagang mengaku lonjakan biaya operasional, terutama transportasi, menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga ternak.
Salah satu pedagang sapi di Balikpapan, Muhammad Abduh Kuduh, mengatakan kenaikan harga BBM berimbas langsung pada ongkos distribusi hewan ternak yang didatangkan dari luar daerah.

“Biaya ekspedisi naik karena harga solar juga naik. Jadi semua serba ikut naik,” ujarnya saat ditemui di peternakannya, Minggu (3/5/2026).
Abduh menjelaskan, tahun ini pihaknya menyediakan berbagai jenis hewan kurban, mulai dari sapi, kambing, hingga domba. Ia juga menambah variasi jenis ternak, khususnya domba, untuk memenuhi tingginya minat masyarakat.
“Tahun-tahun sebelumnya kami belum pernah mendatangkan domba, tapi tahun ini kami datangkan karena animo masyarakat cukup tinggi,” jelasnya.
Untuk sapi, tersedia beberapa jenis seperti limosin, simental, brahman, hingga sapi lokal Bali, dengan bobot bervariasi mulai dari 300 kilogram hingga mencapai 1 ton. Bahkan, sapi dengan bobot terbesar telah terjual dengan harga mencapai Rp100 juta.
Sementara itu, harga domba juga beragam tergantung jenisnya. Domba jenis texel dijual mulai Rp4 juta per ekor, sedangkan domba dorper yang dikenal sebagai pedaging memiliki harga lebih tinggi, namun stoknya telah habis terjual.
Menurut Abduh, sebagian besar hewan ternak, khususnya kambing dan domba, didatangkan dari Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah yang dikenal sebagai salah satu sentra peternakan. Ia menyebutkan kenaikan harga tahun ini cukup terasa dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk sapi lokal, misalnya, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp22 juta hingga Rp23 juta, kini naik menjadi sekitar Rp25 juta per ekor, atau meningkat sekitar 3 hingga 5 persen.
Meski demikian, Abduh memastikan minat masyarakat untuk berkurban tidak mengalami penurunan signifikan. Pelanggan tetap masih mempercayakan pembelian hewan kurban di tempatnya.
Di sisi lain, ia juga memastikan kondisi kesehatan hewan ternak tetap terjaga. Menurutnya, kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kalimantan Timur saat ini hampir tidak ditemukan berkat program vaksinasi dari pemerintah.
“Hewan di sini sudah divaksin, bahkan ada yang sampai tiga kali. Jadi relatif aman,” tegasnya.
Untuk menarik minat pembeli, Bang Kumis Farm turut menawarkan layanan “terima beres”, mulai dari penyembelihan hingga pengemasan daging sesuai permintaan konsumen. Abduh pun optimistis penjualan hewan kurban tahun ini akan tetap berjalan baik hingga mendekati Hari Raya Iduladha.
Penulis: Aprianto





