Pemkot Minta Pelaku Usaha Tahu-Tempe Jaga Produksi di Tengah Kenaikan Harga Kedelai

BALIKPAPAN — Pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Balikpapan memilih tetap menjaga stabilitas produksi di tengah kenaikan harga bahan baku kedelai yang masih fluktuatif. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kebutuhan pasar lokal tetap terpenuhi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di sektor pangan tersebut.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kusuma, mengatakan bahwa meski harga kedelai cenderung mengalami kenaikan, para produsen tidak serta-merta menaikkan harga jual produk. Sebaliknya, mereka melakukan penyesuaian dari sisi ukuran agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

“Secara umum harga bahan baku memang naik, dengan kisaran sekitar 1 hingga 5 persen dibandingkan tahun lalu dan bersifat fluktuatif setiap bulan. Namun pelaku usaha berupaya mempertahankan harga jual agar tetap ramah di kantong konsumen,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Heru menjelaskan, kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe di Balikpapan saat ini mencapai sekitar 400 hingga 450 ton per bulan. Sebagian besar pasokan tersebut masih bergantung pada impor, terutama dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Ketergantungan ini membuat harga kedelai sangat dipengaruhi kondisi pasar global serta biaya distribusi.

Baca Juga:   Disdikbud Balikpapan Salurkan Bantuan untuk Siswa Terdampak Longsor di Gunung Empat

Dalam situasi tersebut, Heruressandy menekankan pentingnya menjaga volume produksi. Menurutnya, jika kebutuhan pasar sudah terpenuhi dalam jumlah tertentu, maka kapasitas produksi sebaiknya dipertahankan sebagai bentuk keberlanjutan usaha.

“Permintaan pasar terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan adanya kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk program MBG yang turut mendorong peningkatan kebutuhan produksi setiap minggunya,” jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Balikpapan juga terus mendorong penguatan sentra industri tahu-tempe. Saat ini terdapat sekitar 100 rumah produksi di dalam sentra, dengan 85 unit sudah aktif beroperasi. Sementara itu, masih tersedia sekitar 15 unit yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha baru.

Selain itu, terdapat sekitar 12 industri kecil di luar sentra yang telah terdata dan diharapkan dapat bergabung. Namun, sebagian dari mereka masih menghadapi kendala dalam menjaga konsistensi produksi karena sistem usaha yang berbasis pesanan.

Heruressandy menegaskan, bahwa distribusi bahan baku melalui koperasi, khususnya Primkopti, saat ini diprioritaskan bagi anggota yang berada di dalam sentra. Kebijakan ini bertujuan menjaga kestabilan pasokan dan memastikan produksi tetap berjalan optimal.

Baca Juga:   Si Simental, Sapi Presiden Prabowo Untuk Kota Balikpapan Berbobot 830 Kg

“Bahan baku dari koperasi hanya diperuntukkan bagi anggota. Ini untuk menjaga keberlangsungan produksi di dalam sentra agar tetap stabil,” tambahnya.

Ke depan, pemerintah berharap sinergi antara pelaku usaha, koperasi, dan program kemitraan dapat terus diperkuat. Dengan kolaborasi tersebut, industri tahu-tempe di Balikpapan diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah dinamika harga bahan baku global.

Penulis: Aprianto

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img