Sabtu (14/2) siang saya memulai pukulan di tee 18 Bukit Tanah Merah Golf Club (BTMGC) Samarinda dengan target bermain rapi dan menjaga ritme. Di Flight C, dalam gelaran Walikota Samarinda Golf Open Tournament 2026, saya menutup hari dengan nett 70. Cukup baik, tetapi belum cukup untuk naik podium.
Turnamen yang berlangsung dua hari hingga Minggu (15/2) ini diikuti sekitar 250 peserta dan undangan saat penutupan. Sejak pagi, lapangan sudah hidup. Area registrasi padat, obrolan hangat terdengar di club house. Namun begitu masuk tee box, suasana berubah. Fokus. Semua kembali pada permainan masing-masing.

Saya satu pairing bersama Kepala Bagian Protokol Komunikasi Pimpinan (Prokompim) Sekretariat Daerah Kota Samarinda Dinvi Kurniadi, Arya Guntara, dan Notaris Marzuki Ibrahim. Empat orang, empat karakter. Di atas fairway, semua setara. Tidak ada jabatan, tidak ada titel. Yang berbicara hanya pukulan dan skor.
Start dari hole 18 memberi tekanan tersendiri. Biasanya menjadi hole penutup yang menentukan, kali ini justru menjadi pembuka. Drive pertama saya aman di fairway. Sejak awal saya memilih bermain konservatif. Tidak mengejar jarak, fokus pada posisi dan kontrol.

Beberapa hole berjalan sesuai rencana. Approach cukup presisi. Putting tidak buruk. Namun golf selalu tentang detail kecil. Satu putt meleset tipis. Satu keputusan sedikit terlalu agresif. Selisih satu-dua pukulan di beberapa hole itulah yang membedakan papan tengah dengan podium.
Nett 70 bagi saya bukan hasil jelek. Itu tanda permainan cukup stabil. Namun di turnamen dengan peserta ratusan dan kompetisi ketat, stabil saja belum tentu cukup.

Saya tidak membawa trofi. Nomor undian saya juga tidak dipanggil saat doorprize. Tidak ada sepeda motor, tidak ada TV, tidak ada jackpot, dan tentu saja tidak ada hole in one. Padahal hadiah yang disiapkan panitia terbilang besar. Sembilan sepeda motor, berbagai perangkat elektronik, sepeda gunung, hingga hadiah hole in one berupa mobil dan uang tunai ratusan juta rupiah. Setiap kali peserta berdiri di par 3, langsung fokus. Semua berharap satu pukulan sempurna yang bisa mengubah cerita.
DAFTAR JUARA
Flight A
Best Gross A: Ramansyah
Best Nett I: Asmadi
Best Nett II: M. Yusuf
Flight B
Best Gross: Imam Fawaid
Best Nett I: Jholanda
Best Nett II: Rahman S
Flight C
Best Gross: Andhika
Best Nett I: Wody BKS
Best Nett II: Rahman S
Ladies Flight
Best Gross: Rani Ardelia
Best Nett I: Dwi Partono
Best Nett II: Reni Widiawati
Special Flight
Best Gross: Mas Jaya
Best Nett I: Seno Aji
Best Nett II: Ivan Kusnandar
Senior Flight
Best Gross: Amir
Best Nett I: H. Thamrin
Best Nett II: Sufian Agus
Best Gross Overall: Mochtar
Best Nett Overall: Roby Kamarudin
Longest Drive: Fitriyanto
Nearest to the Line: Aliang
Nearest to the Pin: Sunardi

Saat penutupan, suasana menjadi lebih cair. Ketua Panitia Hermanus Barus menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan sponsor yang telah mendukung turnamen keempat secara berturut-turut ini. Ia melaporkan jumlah peserta dan undangan sekitar 250 orang serta berharap dukungan tersebut terus berlanjut pada penyelenggaraan berikutnya.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saifuddin Zuhri, dalam sambutannya mengucap syukur atas kelancaran turnamen dan menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan ruang silaturahmi dan kebersamaan. “Yang menang jangan terlalu jumawa, yang kalah jangan berkecil hati. Hari ini bisa menang, besok bisa kalah,” ujarnya.
Turnamen selesai. Tapi bagi saya, hari itu menjadi catatan bahwa golf selalu tentang proses. Tentang mengelola tekanan. Tentang menerima hasil dengan lapang. Di atas fairway, tidak ada yang bisa disalahkan selain keputusan sendiri. Dan justru di situlah letak pelajarannya. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.





