SAMARINDA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 mencapai 4,64 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim meningkat dari 105,60 pada Februari 2025 menjadi 110,50 pada Februari 2026. Kenaikan ini mencerminkan tekanan harga yang terjadi di berbagai sektor kebutuhan masyarakat selama satu tahun terakhir.
Dari empat daerah pemantauan inflasi di Kalimantan Timur, Kota Samarinda mencatat inflasi tertinggi, yakni 5,29 persen dengan IHK sebesar 110,43. Sementara itu, inflasi paling rendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dengan angka 4,13 persen dan IHK sebesar 110,09.
Selain inflasi tahunan atau year on year (y-on-y), BPS juga mencatat adanya kenaikan harga secara bulanan. Pada Februari 2026, inflasi month to month (m-to-m) tercatat 0,60 persen dibandingkan Januari 2026.
Sementara itu, inflasi year to date (y-to-d) sejak awal tahun hingga Februari 2026 mencapai 0,64 persen.
Inflasi di Kaltim terutama dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat. Salah satu kelompok dengan kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat hampir 17 persen dalam setahun terakhir.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang meningkat lebih dari 14 persen. Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh kenaikan tarif listrik.
Selain itu, harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan sekitar 3,75 persen secara tahunan.
Beberapa sektor lainnya turut mengalami kenaikan, di antaranya pendidikan yang naik 2,43 persen, kesehatan 1,35 persen, serta restoran sebesar 1,38 persen.
Namun demikian, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Beberapa sektor justru mencatat penurunan indeks harga atau deflasi.
Di antaranya pakaian dan alas kaki yang turun sekitar 1,01 persen, perlengkapan rumah tangga turun 1,25 persen, serta transportasi yang turun tipis sekitar 0,04 persen.
Sejumlah komoditas tercatat memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan di Kaltim. Di antaranya tarif listrik, emas perhiasan, ikan layang, beras, serta rokok kretek mesin.
Selain itu, komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, bawang merah, kopi bubuk, hingga biaya sewa rumah serta biaya pendidikan seperti perguruan tinggi dan sekolah dasar.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru membantu menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga. Komoditas tersebut antara lain bensin, detergen, telepon seluler, serta tarif ojek online roda dua.
Secara umum, BPS menyimpulkan bahwa kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Kalimantan Timur pada Februari 2026, terutama dari sektor kebutuhan rumah tangga dan bahan pangan.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S





