spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Menguji Logo untuk Universitas Sains dan Teknologi Bontang

Menjadi juri sayembara logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang (USTB) bukan perkara mudah. Ini menyangkut arah dan identitas institusi yang sedang bersiap bertransformasi. Apalagi, dari lima orang juri yang ditunjuk, saya satu-satunya juri eksternal.

Empat juri lainnya berasal dari internal kampus. Terdiri atas dua perwakilan yayasan dan dua dari unsur pimpinan STITEK Bontang. Posisi ini tentu membanggakan, sekaligus menuntut kehati-hatian. Karena saya hadir tanpa afiliasi struktural dan berdiri sebagai penilai independen.

Salah satu peserta mempresentasikan konsep logo di hadapan dewan juri pada sayembara logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang di Kampus Utama STITEK Bontang. Foto: Istimewa

Undangan menjadi juri saya terima langsung dari Wakil Ketua STITEK Bontang, Herri Susanto, S.S., M.Hum. Sejak awal saya tahu bahwa sayembara ini bukan lomba desain biasa. Logo yang dipilih akan menjadi identitas resmi universitas baru. Digunakan dalam jangka panjang, dan melekat pada berbagai aspek institusi. Mulai dari ijazah, papan nama kampus, dokumen resmi, toga wisuda, hingga seluruh ekosistem digital kampus.

Proses transformasi STITEK menuju universitas ini sebelumnya juga telah saya tulis bersambung dalam beberapa artikel. Sehingga, sayembara logo ini saya pandang sebagai bagian penting dari rangkaian perubahan tersebut.

Baca Juga:   Catatan FGD Kodifikasi UU Pemilu (3): Afirmasi Perempuan, Rekrutmen Penyelenggara, Gakkumdu, dan Efisiensi Demokrasi
Suasana penjurian sayembara logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang di Ruang PMB Kampus Utama STITEK Bontang, Jumat (9/1/2026). Para juri melakukan penilaian dan pencatatan skor secara daring. Foto: Istimewa

Penjurian dilaksanakan Jumat (9/1/2026) di Ruang PMB Kampus Utama STITEK Bontang, Jalan Letjen S. Parman. Laptop para juri terbuka di meja dengan lembar penilaian secara daring. Layar presentasi juga telah disiapkan untuk peserta. Sejak pukul 16.30 Wita, peserta dipanggil bergantian untuk mempresentasikan karya mereka. Proses penjurian sempat dijeda untuk salat Magrib, kemudian dilanjutkan kembali hingga seluruh rangkaian penilaian berakhir sekitar pukul 22.00 Wita.

Selama proses penjurian, para juri tidak hanya fokus pada tampilan visual semata. Setiap karya diuji melalui pertanyaan. Para juri menggali alasan di balik bentuk, simbol, dan pilihan warna yang digunakan. Konsistensi antara desain dan visi kampus menjadi perhatian utama.

Ada peserta dengan desain yang kuat, tetapi ketika diminta menjelaskan makna filosofisnya, masih terlihat ragu. Ada pula yang visualnya sederhana, namun mampu menjelaskan konsep dan relevansinya secara runtut dan masuk akal.

Salah satu momen yang cukup menarik terjadi saat Aviora Karunia, dosen luar biasa Teknik Informatika, mengaku tidak menyangka bahwa sayembara ini mengharuskan peserta mempresentasikan karya secara langsung di hadapan juri. Ia semula mengira lomba logo ini hanya sebatas pengumpulan desain. “Presentasi ini juga saya buat mendadak,” kelakarnya depan juri.

Baca Juga:   Dari Kaltim untuk Dewan Pers
Dewan juri sayembara logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang berfoto bersama usai penjurian. Foto: istimewa

Meski demikian, ia tetap harus menyesuaikan diri dengan dinamika sesi tanya jawab. Di sini terlihat bahwa karya tidak hanya dinilai dari hasil akhir, tetapi juga dari kemampuan mempertanggungjawabkannya secara akademik.

Para peserta, baik mahasiswa maupun dosen, tampak berusaha tampil maksimal dengan mengeksplorasi karyanya di depan juri. Mereka menjelaskan ide yang dibangun sendiri. Terlihat ada rasa gugup, tetapi juga kesungguhan.

Dari 12 peserta, hanya satu yang tidak hadir dalam sesi presentasi, yakni Elreno Juneco Perierra, Mahasiswa Teknik Informatika 2025. Selebihnya hadir dan mengikuti seluruh rangkaian proses penjurian.


Penilaian dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan panitia sejak awal. Meliputi kreativitas dan orisinalitas, kesederhanaan dan kejelasan desain, keserasian warna dan tipografi. Selain itu juga, kedalaman makna, kesesuaian dengan tagline The Knowledgeable and Virtue Campus, serta kualitas presentasi. Penilaian tidak didasarkan pada selera pribadi, melainkan pada ukuran yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari seluruh proses tersebut, akhirnya mengerucut lima logo terbaik. Karya Muhammad Yusuf Saputra, Belva Pranama Sriwibowo, Aviora Karunia, Muhammad Salvatore, dan Irfani Zuhrufilah.

Baca Juga:   Satu Lubang untuk Kabur, Banyak Pelajaran untuk Kepolisian

Pemenang dari lima besar ini akan diumumkan secara resmi pada Wisuda STITEK Bontang, 24 Januari 2026. Momentum ini tepat, lantaran wisuda bukan hanya menandai kelulusan mahasiswa, tetapi juga simbol transisi STITEK Bontang menuju Universitas Sains dan Teknologi Bontang.

Komposisi juri dalam sayembara ini terdiri atas Ir. Dedy Rahmad Utomo, S.T., IPM dan Hardianto, S.T., M.Eng. yang mewakili Yayasan Bessai Berinta selaku badan penyelenggara STITEK Bontang, Zaini, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua STITEK Bontang, Herri Susanto, S.S., M.Hum. sebagai Wakil Ketua STITEK Bontang, serta saya sendiri sebagai juri eksternal.

Dari penjurian yang berlangsung, terlihat bahwa STITEK Bontang tidak menempatkan perubahan ini sebagai formalitas, melainkan sebagai proses yang disiapkan dengan sangat serius. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img