SENDAWAR – Panen padi bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Kelompok Tani Maju Bersama di Rapak Oros, Kampung Linggang Amer, menunjukkan hasil nyata dari pengembangan pertanian berbasis riset. Varietas Inpara 02 terbukti menjadi yang paling adaptif dengan produktivitas mencapai 4,8 ton per hektare.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari uji kelayakan lahan yang dilakukan pada 2024 bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional di Yogyakarta.
“Dilakukan uji terhadap empat varietas padi, yaitu IPB 3S, Trisakti, Inpara 02, dan padi lokal, pada lahan seluas dua hektare untuk mengetahui varietas yang paling sesuai dengan kondisi Rapak Oros,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa Inpara 02 memiliki performa terbaik dengan produktivitas lebih tinggi dibandingkan padi ladang yang rata-rata hanya sekitar 3 ton per hektare.
Berdasarkan hasil kaji terap tersebut, pada 2025 dilakukan pengembangan lanjutan dengan menetapkan Inpara 02 sebagai varietas unggulan. Pengembangan dilakukan pada lahan seluas 5 hektare.
Padi yang dipanen bersama ini ditanam pada 8 Desember 2025 dan dipanen pada 26 Maret 2026, dengan masa tanam sekitar tiga bulan. Dengan siklus tersebut, dalam satu tahun penanaman dapat dilakukan dua hingga tiga kali.
“Jika produktivitas 4,8 ton per hektare, maka dua kali tanam bisa mencapai 9,6 ton per tahun, bahkan bisa mendekati 15 ton jika tiga kali tanam,” jelasnya.
Dalam praktiknya, pengembangan padi ini juga menggunakan sistem tanam jajar legowo yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi lahan serta optimalisasi pertumbuhan tanaman.
Stepanus menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah, peneliti, penyuluh, dan petani melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
“Pendekatan ini memastikan setiap langkah pengembangan pertanian memiliki dasar yang jelas dan terukur,” katanya.
Ke depan, varietas Inpara 02 diharapkan terus dikembangkan untuk meningkatkan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Kutai Barat. (MK)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S





