SANGATTA — Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 2025 mengalami perlambatan tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim mencatat laju pertumbuhan ekonomi daerah hanya mencapai 1,05 persen, jauh menurun dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 9,82 persen.
Kepala BPS Kutim Widiyantono menjelaskan perlambatan tersebut dipicu oleh melemahnya kinerja sektor pertambangan yang mengalami pertumbuhan negatif sekitar -0,99 persen.
Menurutnya, sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung perekonomian Kutim dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Karena porsinya sangat dominan, penurunan pada sektor ini langsung berdampak signifikan terhadap angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
“Struktur ekonomi Kutai Timur masih sangat didominasi sektor pertambangan. Jadi ketika sektor ini mengalami kontraksi, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Widiyantono, Jumat (13/3/2026).
Meski sektor tambang mengalami penurunan, sejumlah sektor non-pertambangan justru menunjukkan kinerja positif sepanjang 2025. Salah satunya sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi sekitar 19 persen.
Selain itu, sektor akomodasi dan makan minum, konstruksi, serta berbagai sektor jasa lainnya juga mengalami peningkatan aktivitas ekonomi.
Widiyantono menambahkan bahwa apabila sektor pertambangan tidak dihitung dalam struktur ekonomi daerah, maka pertumbuhan ekonomi non-pertambangan Kutim bahkan mencapai sekitar 11 persen.
“Ini menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat sebenarnya cukup dinamis. Perdagangan, usaha kuliner, hingga UMKM terus berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, dampak perlambatan ekonomi terhadap tingkat pengangguran dan kemiskinan masih menunggu hasil survei resmi dari BPS melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
Di sisi lain, perkembangan harga di daerah juga terus dipantau melalui indikator inflasi atau deflasi serta Indeks Perkembangan Harga (IPH).
Meski pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan, sektor non-pertambangan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor baru perekonomian Kutim di masa depan. Karena itu, diversifikasi ekonomi dinilai penting agar daerah tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan.
Penulis: Ramlah
Editor: Agus S



