Bukan dimulai dari lapangan liputan. Bukan pula langsung menyandang profesi wartawan. Tahun 2001, saya masuk ke ruang redaksi dari profesi yang paling jarang disebut: desainer iklan.
Dari sana saya belajar bahwa media bukan hanya soal menulis berita, tetapi tentang bagaimana informasi dicari, disusun, dan dipertanggungjawabkan kepada publik.
Perjalanan itu terus saya lalui. Dari satu peran ke peran lain. Mulai mengerjakan layout tampilan halaman koran, hingga akhirnya turun ke lapangan sebagai wartawan.
Saya merasakan langsung bagaimana berita dicari, diverifikasi, ditulis, lalu diperdebatkan di dapur redaksi. Setelah itu, tanggung jawab bertambah. Diangkat menjadi redaktur, koordinator liputan, hingga dipercaya menjadi kepala biro. Dari Biro Kutai Kartanegara (Kukar) hingga Biro Bontang.
Di tahap ini, saya tidak hanya mengurus berita. Saya juga mengelola orang, konflik internal, serta tekanan dari berbagai arah. Dunia pers mengajarkan bahwa tidak semua keputusan bisa menyenangkan semua pihak. Tetapi setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan. Baik secara etika maupun profesional.
Tahap paling menantang ketika saya merangkap jabatan sebagai direktur sekaligus pemimpin redaksi (pemred) saat membangun media lokal di Bontang tahun 2010. Di situ saya benar-benar memahami bahwa idealisme jurnalistik tidak bisa berjalan sendiri tanpa manajemen yang sehat. Redaksi dan bisnis tidak boleh saling meniadakan, tetapi juga tidak boleh saling menguasai.
Tahun 2020 menjadi fase penting berikutnya. Di tengah pandemi Covid-19, saat media online baru terus bermunculan, saya memutuskan membangun Media Kaltim. Pilihan itu saya ambil dan sadar bahwa jalannya tidak akan mudah.
Tapi saya masih punya keyakinan bahwa media lokal harus tetap hidup, meski bentuknya berubah. Karena itulah, saya memilih jalur digital penuh. Tanpa media cetak, tanpa oplah fisik, dan disebar gratis. Pilihan ini berisiko, tetapi sesuai kebiasaan pembaca, menginginkan akses informasi yang cepat dan terbuka.
Pengalaman itulah yang selalu terlintas setiap kali Hari Pers Nasional (HPN) diperingati. Hari ini, 9 Februari 2026, HPN saya maknai bukan sebagai seremoni, tetapi mengingatkan perjalanan yang sudah saya lalui.
Hari Pers Nasional diperingati bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946. Melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985, negara secara resmi menetapkan tanggal ini sebagai Hari Pers Nasional sebagai bentuk pengakuan atas peran pers dalam pembangunan bangsa dan demokrasi. Sejak itu, HPN diperingati setiap tahun secara bergilir di berbagai provinsi.
Pada 2026 ini, peringatan HPN dipusatkan di Provinsi Banten dengan pusat kegiatan di Kota Serang. Rangkaian acara berlangsung mulai 6 hingga 9 Februari. Puncaknya hari ini. Tema yang diusung, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Pers yang profesional tidak hanya menjalankan fungsi jurnalistik, tetapi juga harus mampu bertahan secara ekonomi agar tetap independen.
Beragam kegiatan digelar dalam HPN 2026. Mulai dari seminar dan diskusi jurnalistik, konvensi nasional media massa yang membahas tantangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), workshop literasi media, pameran UMKM dan foto jurnalistik, kegiatan sosial, hingga penghargaan karya jurnalistik.
Seluruh rangkaian ini menjadi kesempatan untuk menilai kondisi pers secara terbuka. Jadi, bukan sekadar agenda seremonial.
HPN juga mengingatkan bahwa pers sedang menghadapi tantangan besar. Disrupsi media mengubah pola konsumsi informasi dengan cepat. Media sosial dan platform digital menguasai distribusi. Iklan terfragmentasi. Tekanan untuk cepat dan viral semakin kuat. Dalam kondisi seperti ini, godaan besar untuk mengabaikan verifikasi dan etika.
Namun digitalisasi tidak boleh mengorbankan disiplin jurnalistik. Berita tetap harus diverifikasi. Narasumber harus jelas. Hak jawab harus dihormati. Media tidak boleh berubah menjadi sekadar pengumpul konten.
Di sinilah makna pers sehat menjadi penting. Pers yang sehat bukan hanya soal keuangan, tetapi juga soal cara kerja. Redaksi yang tertib, struktur berita yang rapi, serta pemisahan yang tegas antara fakta, opini, dan kepentingan. Tanpa itu, sulit mendapatkan kepercayaan publik.
HPN bukan soal mengenang masa lalu pers, tetapi tentang sikap pers hari ini. Tetap bekerja dengan etika, menjaga tanggung jawab, serta menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi. Tidak boleh kehilangan arah. Menjaga integritas tetap menjadi pekerjaan utama yang tidak boleh ditinggalkan.
Selamat Hari Pers Nasional 2026.
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.






