Turnamen Pupuk Kaltim Golf Bontang (PGB) Open 2025 pada 15–16 November, menjadi momen penting bagi saya. Setelah hampir sepuluh tahun tidak turun bermain di turnamen Bontang, kembali menjejakkan kaki di fairway memberi rasa berbeda. Selama aktif di Bawaslu sejak 2015 hingga 2023, waktu untuk golf semakin sempit. Sampai tanpa terasa olahraga ini perlahan saya tinggalkan.
Saya mengenal golf dari almarhum Bakrie Makmur, pegolf profesional asal Bontang. Dari beliaulah saya pertama kali belajar memegang stik dengan benar, memahami ritme ayunan, sekaligus mengenal karakter lapangan.
Latihan saya waktu itu tidak intens, tetapi cukup memberi dasar. Fokus saya lebih pada silaturahmi dan ruang pertemuan yang tercipta lewat golf. Dari lapangan Sintuk hingga Badak Golf, saya rutin turun bersama teman-teman humas PKT dan humas Badak LNG. Bahkan sempat ada komunitas kecil bernama Bessai Berinta Golf Club yang menjadi tempat kami berkumpul sebelum masing-masing tenggelam dalam kesibukan.

Niat untuk kembali bermain sebenarnya sudah ada sejak digelarnya Beleng-Beleng Golf Club Open Turnamen 2025 pada 1-2 November, yang juga berkolaborasi dengan Media Kaltim. Setelah itu saya dimasukkan ke dalam grup WhatsApp Beleng-Beleng Golf Club, membuat saya kembali terhubung dengan kawan-kawan sesama pegolf.
Dari situ muncul keyakinan bahwa memang sudah waktunya turun lagi. Selain rindu suasana lapangan, saya ingin kembali menjalin relasi yang dulu tumbuh lewat golf. Di olahraga ini, percakapan mengalir lebih santai, perkenalan terjadi lebih alami, dan banyak urusan justru lebih mudah dibahas dalam satu flight.
PGB tahun ini berlangsung cukup ramai. Dari tee pertama, para pegolf terlihat santai, bercanda, dan saling menyapa sebelum memulai permainan. Sebagian berfoto bersama, sementara lainnya fokus menyiapkan pukulan. Lapangan Sintuk Golf Bontang pun dalam kondisi baik. Green rapi, fairway bersih, dan jalur permainan cukup nyaman.
Seperti halnya turnamen lain, pairing tidak bisa kita pilih. Saya bermain di Flight C pada Sabtu (15/11) siang. Dari empat pemain, satu-satunya yang saya kenal sebelumnya adalah Lurah Loktuan, Supriyadi. Dalam pekerjaan kami sudah beberapa kali bertemu, tetapi baru kali ini turun bersama dalam satu flight. Dua pemain lain adalah Ardiansyah dari Reskrim Polres Bontang dan Aswin, ASN dari Kutai Timur.
Kami mulai dari hole tujuh. Permainan berjalan standar untuk siang itu. Ada pukulan yang rapi, ada yang meleset jauh dari target. Hole 7, par 3 yang cukup menantang, bahkan kami selesaikan tanpa satu pun par. Hasilnya hanya bogey, double, dan triple. Tetapi itulah golf. Ada hari di mana permainan terasa pas, ada hari di mana kita hanya perlu menikmati prosesnya.
Di sela perpindahan hole, obrolan mengalir. Tentang pekerjaan, kondisi lapangan, atau sekadar mengomentari pukulan masing-masing. Semuanya mengalir natural mengikuti ritme permainan.
Dari kejauhan, saya melihat pegolf lain bercanda dengan caddie. Ada yang serius membaca jalur putting, dan ada yang sibuk mengabadikan momen. Turnamen ini terasa santai, tetapi tetap kompetitif.
Yang membuat hari itu lebih lengkap adalah bertemunya saya dengan kawan-kawan lama dari Bessai Berinta Golf Club. Samsir yang berprofesi sebagai notaris, Adrofdita yang telah pensiun dari PT Trust, Didik pensiunan PKT, dan Budi Nanang yang masih aktif di PT KPC. Pertemuan singkat itu mengingatkan saya pada masa ketika golf menjadi ruang diskusi, menjalin relasi baru, sekaligus menjaga silaturahmi.

Memasuki sesi awarding, suasana tidak kalah meriah. Ruangan penuh, peserta menunggu hasil flight. Sorakan terdengar saat nama pemenang diumumkan. Kehadiran pegolf profesional Benny Kasiadi memberi nilai tambah. Termasuk ketika ia melayani tantangan “Beat The Pro” dengan ramah di par 3.

Dua belas pegolf junior tampil cukup percaya diri, dan menurut saya inisiatif panitia menghadirkan kategori junior adalah langkah tepat untuk pembinaan atlet sejak dini.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, yang juga ikut bermain, bahkan menilai lapangan Bontang sudah layak menjadi tuan rumah turnamen berskala lebih besar.

PGB tahun ini memang digelar cukup besar. Selain menjadi ajang berkumpulnya pegolf se-Kaltim, panitia juga membawa misi sosial: pembinaan atlet junior, dukungan bagi UMKM lokal, dan penyaluran bantuan untuk warga buffer zone.

Ketua Panitia, Levi Rachmadian, menyebut ada sekitar 250 peserta, termasuk 12 pegolf junior usia 9–18 tahun. Donasi dari peserta mencapai Rp30,75 juta, ditambah Rp20 juta dari panitia untuk disalurkan ke panti asuhan dan masyarakat sekitar. Dari sisi penyelenggara, Direktur Manajemen Risiko PKT, Teguh Ismartono, menegaskan bahwa PGB merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-48 PKT dan menjadi komitmen perusahaan dalam pembinaan olahraga, dukungan ekonomi lokal, dan memperluas ruang silaturahmi.

PGB Open 2025 menjadi momen bagi saya untuk kembali merasakan ritme yang dulu pernah hilang. Golf bukan soal pukulan sempurna, tetapi tentang konsistensi dan bagaimana kita berinteraksi dalam satu flight. Turnamen ini mengingatkan bahwa di tengah kesibukan, ada hal-hal yang memang layak kita jemput kembali. Salah satunya adalah golf.(*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




