SAMARINDA — Upaya memperkuat ekosistem fashion dan wastra Kalimantan Timur mulai diarahkan ke langkah yang lebih terstruktur. Hal itu mengemuka dalam audiensi antara Fascreeya Indonesia bersama Kalland Project dengan Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Timur, Hj. Sarifah Suraidah Harum, di Rumah Jabatan Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi momentum awal membangun kolaborasi untuk mendorong produk fashion dan kriya berbasis kearifan lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Ketua Fascreeya Indonesia, Anas Magfur, menegaskan Kalimantan Timur memiliki identitas wastra yang kuat. Namun, menurutnya potensi tersebut perlu didukung dengan pembinaan yang sistematis serta akses pasar yang lebih luas.
“Kalimantan Timur punya identitas wastra yang kuat. Dengan pembinaan terstruktur, kurasi yang baik, serta akses pasar yang luas, saya optimistis produk fashion dan kriya daerah mampu naik kelas dan bersaing di tingkat nasional hingga internasional,” ujar Anas saat dikonfirmasi Media Kaltim, Rabu (4/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas rencana pembentukan organisasi desainer nasional melalui IFC Chapter IKN Nusantara (Indonesian Fashion Chamber) yang akan menjadi wadah kolaborasi para desainer dan pelaku industri kreatif di wilayah Kalimantan Timur.
Sejumlah langkah strategis turut disepakati, mulai dari pendataan UMKM fashion dan kriya, penyusunan program kerja bersama, penguatan kapasitas perajin dan desainer, hingga memperluas akses promosi dan pasar.
Salah satu poin penting adalah fasilitasi produk anggota Fascreeya Indonesia yang telah melalui proses kurasi untuk dipasarkan melalui Galeri UMKM di Samarinda dan Balikpapan.
Anas menegaskan proses kurasi menjadi bagian penting dalam menjaga standar kualitas produk daerah agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin setiap produk yang tampil membawa nama baik Kalimantan Timur. Standar kualitas harus dijaga agar kepercayaan pasar terus meningkat,” tegasnya.
Ketua Dekranasda Kaltim, Hj. Sarifah Suraidah Harum, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai kolaborasi dengan komunitas dan organisasi fashion menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem kriya dan wastra daerah.
“Dekranasda siap berkolaborasi dan membuka ruang sinergi seluas-luasnya. Kita ingin perajin dan desainer lokal tidak hanya berkembang, tetapi juga memiliki panggung yang lebih luas untuk menunjukkan karya terbaiknya,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan identitas budaya harus tetap menjadi ruh dalam setiap pengembangan produk fashion daerah.
“Wastra Kalimantan Timur adalah warisan budaya yang bernilai tinggi. Tugas kita adalah merawatnya sekaligus mengembangkannya agar tetap relevan dan diminati pasar,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Fascreeya Indonesia bersama Kalland Project serta IFC Chapter Nusantara yang sedang dalam proses pembentukan akan difasilitasi ruang kantor di Gedung Galeri UKM lantai 2. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat inkubasi kreatif sekaligus ruang kolaborasi bagi pelaku fashion dan kriya di Kalimantan Timur.
Audiensi ini menghasilkan komitmen untuk segera menyusun draft program kerja bersama, melakukan koordinasi teknis terkait mekanisme kurasi produk, serta menata ruang kantor yang akan menjadi pusat aktivitas kolaboratif.
Melalui langkah tersebut, kedua pihak berharap wastra Kalimantan Timur semakin kuat identitasnya dan mampu tampil sebagai kekuatan baru dalam industri fashion nasional.(MK)
Pewarta: Hanafi
Editor: Agus S





