spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dokter Badi, Sahib, dan Bonnie di Lapangan Golf

Tiga bulan terakhir ini saya mulai rutin bermain golf. Dari rutinitas itu, saya dapat kawan main yang konsisten turun lapangan. Adalah dr. Fakhruzzabadi, Sp.OG, yang akrab saya panggil Dokter Badi.

Sudah beberapa kali kami bermain bersama. Setiap kali diajak, hampir tak pernah menolak. Kalau pun berhalangan, itu karena sedang berada di luar kota.

Dokter Badi adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang berpraktik di Poli Kandungan RS Amalia Bontang dan RS Badak LNG. Kesehariannya diisi dengan pemeriksaan kehamilan, pendampingan persalinan, konsultasi kesehatan reproduksi perempuan, hingga program hamil. Pendekatannya komunikatif dan edukatif. Banyak pasien mengenalnya karena cara menjelaskan yang lugas dan mudah dipahami.

Saya dan Dokter Badi usai menyelesaikan satu hole.

Di RS Amalia Bontang, ia juga berjalan beriringan dengan sang istri, dr. Hj. Yuniarti Arbain, M.Kes (MARS), AAM, yang menjabat Direktur Utama. Perannya saling melengkapi. Dokter Badi fokus pada layanan medis, sementara manajemen rumah sakit dijalankan secara profesional.

Di luar profesinya sebagai dokter, Dokter Badi adalah kepala keluarga dengan tiga anak. Jadwal praktiknya padat dan tanggung jawabnya besar. Namun satu yang menonjol, ia sangat disiplin terhadap waktu. Jika sudah berjanji, ia berusaha hadir.

Baca Juga:   Haul Guru Sekumpul di Akhir Tahun
Dokter Badi saat melakukan approach shot di Badak Golf Bontang.

Golf baginya adalah jeda singkat untuk menjaga keseimbangan di tengah ritme kerja dan keluarga.
“Entah kenapa golf ini bikin candu. Kalau di rumah, selalu saja pikiran bekerja. Kenapa hari ini ada pukulan yang kurang pas, dan apa yang harus saya perbaiki,” ujar Dokter Badi yang memiliki handicap (HDC) 7.

Minggu pagi, 4 Januari 2026, kami kembali jadwalkan turun lapangan. Kami sepakat bermain penuh 18 hole di Badak Golf Bontang. Jadwal diatur sehari sebelumnya. Tee off pukul 06.30 Wita. Pagi itu cuaca sangat mendukung. Udara sejuk, tidak terlalu panas, dan angin cukup bersahabat.

Sembilan hole pertama kami lalui berdua. Kami mulai dari hole 4. Permainan tidak terburu-buru. Tidak mengejar skor. Fokus menjaga ritme. Dokter Badi bermain rapi dan stabil. Minim komentar. Fokus pada setiap pukulan. Gaya bermainnya selaras dengan kesehariannya. Tenang, terukur, dan tidak berlebihan.

Setelah menyelesaikan permainan 9 hole, kami bertemu dua anggota DPRD Kota Bontang yang juga mulai aktif bermain golf. Yakni Muhammad Sahib dan Bonnie Sukardi. Kami pun sepakat bergabung. Dari berdua menjadi berempat. Permainan terasa lebih hidup.

Baca Juga:   Balai Kota Samarinda, Wajah Baru dengan Anggaran Rp100 Miliar
Muhammad Sahib melakukan putting di green.

Di sela permainan, obrolan mengalir dengan sendirinya. Tidak hanya soal teknik pukulan atau kondisi lapangan, tetapi juga soal golf di Bontang secara umum.

Kami sepakat bahwa perlu ada upaya bersama untuk kembali meramaikan golf melalui perkumpulan di luar dua klub yang sudah ada, yakni Badak Golf Bontang (BGB) dan Pupuk Kaltim Golf Bontang (PGB). Setidaknya, ada satu wadah lain yang bisa menampung pegolf di luar Badak dan PKT.

Bonnie Sukardi bersiap melakukan pukulan di fairway.

Dalam konteks itu, Sahib sebenarnya sudah lebih dulu menunjukkan inisiatif. Ia menjadi salah satu penggerak Restorasi Golf Tournament 2025 yang digelar pada 29 November 2025 lalu. Turnamen tersebut menjadi sinyal bahwa semangat menghidupkan golf di Bontang masih ada dan perlu dijaga kesinambungannya.

Sukardi kemudian menyebut satu nama lama. Bessai Berinta Golf Club. Klub yang pernah kami dirikan pada 2014. Saat itu semangatnya besar. Akta notaris sudah dibuat, tetapi belum memperoleh pengesahan sebagai badan hukum perkumpulan dari Kementerian Hukum dan HAM. Seiring waktu, kesibukan masing-masing datang, dan klub itu berhenti di tengah jalan.

Baca Juga:   Ketika Merah Putih Berkibar di Pedalaman Mului (2/2): Pertamina Hadirkan Harapan, Warga Tuntut Jalan
Suasana permainan di green Badak Golf Bontang.

“Kalau memang harus bangun baru lagi, ya kita dirikan baru lagi. Intinya kita ingin menghidupkan golf di Bontang,” kata Sahib. Sukardi mengiyakan. Saya menangkap pernyataan itu bukan wacana. Ada niat yang cukup serius untuk membangun perkumpulan golf baru.

Golf bukan soal gaya hidup. Golf adalah ruang silaturahmi. Di lapangan, latar belakang profesi tidak menjadi soal. Yang terlihat justru sikap dan konsistensi. Dari situ, jejaring tumbuh secara wajar.

Permainan kami akhiri sekitar pukul 10.30 Wita. Delapan belas hole selesai dimainkan. Badan lelah, pikiran lebih ringan. Menghidupkan golf di Bontang tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari niat yang sama dan orang-orang yang mau berjalan bersama.

Soal Bessai Berinta Golf Club, apakah dihidupkan kembali atau lahir dengan nama baru, itu urusan nanti. Yang penting, kemauan untuk memulai sudah ada.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img