Rangkaian Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang ditutup dengan pesan-pesan reflektif dari para pemangku kepentingan. Mulai dari pembina yayasan, Pemkot Bontang, hingga LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan. Ketiganya memberi satu benang merah: perubahan STITEK menuju universitas harus dibarengi keberanian riset, kedekatan dengan industri, dan keberpihakan pada masa depan lulusan.
Prosesi wisuda Angkatan XIV berlangsung tanpa euforia berlebihan. Di balik pelepasan 87 wisudawan, perhatian justru tertuju pada arah kampus ke depan. Wisuda ini jadi momentum untuk melihat langkah STITEK Bontang saat bertransformasi menjadi universitas.
Pesan itu datang dari berbagai pihak. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Yhenda Permana, berbicara dari sisi visi dan pengalaman panjang mengawal kampus.
Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menekankan tanggung jawab akademik yang ikut membesar seiring perubahan status.

Sementara Pemkot Bontang, melalui sambutan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang dibacakan Pj Sekda Ahmad Suharto, menegaskan komitmen Pemkot terhadap pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan lokal.
Intinya sama: STITEK tidak boleh berhenti pada pergantian nama.
Dalam sambutannya, Yhenda Permana mengingatkan bahwa wisuda bukan titik akhir perjalanan. “Justru ini awal dari perjuangan yang lebih berat,” ujarnya di hadapan wisudawan.
Ia menegaskan bahwa gelar sarjana tidak boleh berhenti sebagai simbol akademik. “Gelar itu harus dibawa ke dunia kerja, ke persoalan nyata, dan memberi manfaat,” pesannya.
Yhenda juga merefleksikan perjalanan STITEK yang telah ia kawal lebih dari satu dekade. Dari dua program studi hingga kini enam program studi aktif. Dari kampus kecil hingga institusi yang bersiap naik kelas.
Dalam konteks itulah ia menyebut satu arah besar yang ingin dituju. “Kita ingin STITEK, kelak Universitas Sains dan Teknologi Bontang, menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur,” ucapnya.
Bukan meniru bentuk, tetapi meniru watak. Watak kampus yang kuat pada riset terapan, dekat dengan industri, dan relevan dengan kebutuhan daerah. Menurut Yhenda, di kota industri seperti Bontang, kampus harus berani membuka program studi yang benar-benar dibutuhkan.
“Kita punya LNG, pabrik pupuk, energi. Kenapa kampus tidak menyiapkan SDM-nya dari sekarang?” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya riset yang membumi. “Riset itu tidak harus besar dan rumit. Mulai saja dari masalah di sekitar kita,” ujarnya.
Yhenda memberi contoh pengelolaan sampah menjadi energi yang ia lihat langsung di luar negeri. “Kalau di sana (Jerman, Red.) bisa, kenapa kita tidak mulai dari TPA kita sendiri? Riset kecil dulu, tapi nyata,” katanya.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menguatkan arah tersebut. Ia mengapresiasi capaian STITEK, termasuk penambahan dua program studi baru dan konsistensi dosen dalam riset serta pengabdian.
Menurut Akbar, kualitas perguruan tinggi sangat ditentukan oleh dosennya. “Dosen adalah aset utama perguruan tinggi. Kalau dosennya kuat, kampusnya akan maju,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan status membawa tanggung jawab yang lebih besar. “Universitas tidak cukup hanya mengajar. Riset harus diperkuat, publikasi ditingkatkan, dan kerja sama industri diperluas,” katanya.
Akbar menegaskan bahwa pemerintah telah membuka ruang pendanaan riset yang lebih besar. “Tinggal keberanian kampus untuk mengambil peran,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkot Bontang melalui sambutan Wali Kota yang dibacakan Sekda Ahmad Suharto menegaskan dukungan terhadap pendidikan tinggi. “Pemerintah Kota Bontang menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang,” ucapnya.

Program beasiswa, kebijakan serapan tenaga kerja lokal, hingga keberpihakan pada SDM lokal disebut sebagai upaya agar lulusan kampus tidak terputus dari dunia kerja. “Kami ingin lulusan perguruan tinggi di Bontang punya ruang kerja yang nyata,” kata Sekda membacakan sambutan Wali Kota.
Semua pesan tersebut memperlihatkan posisi STITEK Bontang saat ini. Kampus ini sedang berada pada fase penentuan. Perubahan yang ditempuh bukan semata soal status kelembagaan, melainkan tentang arah universitas yang ingin dibangun.
Di kota industri seperti Bontang, kampus teknologi dituntut lebih dari sekadar meluluskan sarjana. Kampus harus mampu menumbuhkan riset dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan daerah serta dunia usaha di sekitarnya.
Wisuda Angkatan XIV menandai berakhirnya satu tahap perjalanan STITEK Bontang. Jika proses transformasi berjalan sesuai rencana, ini menjadi wisuda terakhir dengan nama sekolah tinggi. Setelah itu, langkah berikutnya akan ditempuh dengan nama Universitas Sains dan Teknologi Bontang.
Ikhtiar menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur akan diuji oleh waktu. Namun dari wisuda ini terlihat, arah perubahan STITEK sedang disiapkan secara serius. (Habis)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




