Dari Argomulyo ke IKN, Reog Jadi Hiburan Rakyat

NUSANTARA – Suasana akhir pekan di kawasan Bendungan Sepaku-Semoi, Kecamatan Sepaku, berubah semarak. Ribuan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo yang digelar kelompok Singo Joyo Nusontoro, Sabtu (28/3/2026) malam.

Sejak pukul 16.00 Wita, suasana sudah mulai hidup. Tembang-tembang Jawa dilantunkan pesinden, disusul penampilan penari yang membawakan gerakan khas reog. Puncaknya, atraksi dadak merak menjadi pusat perhatian, mengundang tepuk tangan meriah dari penonton.

Kelompok Singo Joyo Nusontoro sendiri merupakan komunitas seni yang bermukim di Desa Argomulyo, wilayah yang dihuni banyak transmigran asal Ponorogo, daerah yang dikenal sebagai pusat kesenian reog.

Senen, penasihat kelompok tersebut, mengaku senang melihat antusiasme masyarakat yang memadati lokasi pertunjukan.

“Sampai jam 10 malam. Senang melihat yang hadir di sini semua pada terhibur,” ujarnya.

Kehadiran pertunjukan ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan kawasan Ibu Kota Nusantara.

Di Kecamatan Sepaku sendiri, sejumlah desa seperti Argomulyo dan Suka Raja dikenal memiliki akar budaya Jawa yang kuat. Meski beberapa kelompok seni sempat vakum, semangat pelestarian budaya tetap bertahan melalui kegiatan seperti ini.

Baca Juga:   Pasar Segar Sepaku Segera Dibuka, Pedagang Lama Mengaku Tersisih

Salah satu warga, Diana, mengaku pertunjukan tersebut menjadi alternatif hiburan yang jarang ditemui di wilayahnya.

“Senang juga ada ini. Malam minggu jadi ada tontonan, rame. Biasanya paling cuma ngafe atau ke IKN,” ungkapnya.

Sementara itu, Panji yang membantu pengaturan parkir menyebut jumlah pengunjung membludak hingga area parkir meluas.

“Rame sekali. Parkirnya sampai jauh ke sana,” katanya.

Pertunjukan ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah pembangunan kawasan IKN yang modern, ruang-ruang budaya tetap memiliki tempat. Reog Ponorogo bukan hanya tontonan, tetapi juga menjadi identitas yang terus dijaga oleh masyarakat. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img