spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dapat 1 Gram Emas di Turnamen Golf, Harganya Kini Melejit

Saya cukup terkejut melihat lonjakan harga emas dalam waktu yang relatif singkat. Saat menghadiri Turnamen Beleng-Beleng Golf Open 2025 di awal November lalu, saya mendapat doorprize emas 1 gram yang disponsori Pegadaian. Emas itu tidak saya jual. Saya simpan.

Saat saya terima doorprize itu, harga emas masih berada di kisaran Rp 2,3 juta per gram. Angka yang terasa wajar. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi lonjakan besar dalam waktu dekat. Namun dalam kurun waktu yang belum sampai dua bulan, nilainya berubah cukup drastis.

Hari ini, Rabu (28/1/2026), harga emas Antam sudah menembus Rp 3 juta per gram. Bahkan pada sore hari tercatat Rp 3.003.000 per gram. Artinya, emas 1 gram yang saya simpan nilainya sudah naik Rp 700 ribu. Kenaikan setajam ini jarang terjadi dalam waktu sesingkat ini.

Jika hitungannya diperbesar, dampaknya langsung terasa. Pemilik tabungan emas 100 gram hari ini, bisa menikmati kenaikan nilai sekitar Rp 70 juta. Hanya dalam waktu belum sampai dua bulan. Tanpa jual beli aktif. Tanpa strategi rumit. Karena memang harga emas sedang bergerak cepat.

Baca Juga:   Pupuk Kaltim Porwada 2025: Ketika Wartawan Menulis dengan Keringat dan Sportivitas

Data resmi menunjukkan pola yang sama. Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak dari Rp 2,737 juta hingga Rp 3,003 juta per gram. Dalam sebulan terakhir, harganya naik dari Rp 2,488 juta ke Rp 3,003 juta per gram. Pergerakannya konsisten naik.

Fenomena ini juga terasa langsung di lapangan. Di Pegadaian Bontang, masyarakat kini semakin banyak yang memilih menyimpan emas. Beberapa warga yang saya temui menilai emas lebih menguntungkan dibandingkan deposito atau instrumen simpanan lainnya. “Lebih enak simpan emas. Kelihatan naiknya. Deposito bunganya segitu-segitu saja,” kata seorang nasabah Pegadaian.

Apa yang terjadi di Bontang ini sejalan dengan dinamika global. Kenaikan harga emas tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong dinamika global. Salah satu faktor yang paling menonjol datang dari China.

Sepanjang 2025 hingga memasuki 2026, Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC), tercatat terus menambah cadangan emasnya. Pembelian dilakukan rutin, bulan demi bulan. Langkah ini menunjukkan keseriusan China menjadikan emas sebagai bagian penting dari cadangan devisa negara.

Baca Juga:   Roadshow Pengurus BMPS Kaltim (2-Habis): Bertemu Wagub Kaltim, Menyatukan Arah Kesetaraan Mutu Swasta–Negeri

Permintaan emas dari China juga tidak hanya datang dari bank sentral. Data impor emas China melalui Hong Kong pada akhir November 2025 menunjukkan lonjakan lebih dari 101 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menandakan emas benar-benar diburu, bukan sekadar dicatat di laporan keuangan.

Ketika negara sebesar China meningkatkan pembelian emas secara berkelanjutan, dampaknya cepat terasa di pasar global. Tekanan permintaan ikut mendorong harga emas dunia naik. Dan efeknya sampai ke Indonesia.

Kondisi ini juga tergambar pada harga buyback. Saat ini, harga buyback emas Antam berada di Rp 2.854.000 per gram. Artinya, nilai jual emas ikut naik, bukan hanya harga belinya.

Namun kenaikan ini juga membawa konsekuensi. Dengan harga sekitar Rp 3 juta per gram, emas tidak lagi mudah dijangkau semua orang. Membeli 10 gram emas kini membutuhkan hampir Rp 30 juta. Ditambah lagi, transaksi buyback di atas Rp 10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen, sehingga orang harus lebih berhitung sebelum menjual.

Baca Juga:   Meriahnya Karnaval di Gunung Elai: Dari Drum Band TNI, Kostum Sayap Emas, hingga UMKM

Kenaikan harga emas ini bukan soal cerita keuntungan dari doorprize. Tapi gambaran bahwa banyak orang, bahkan negara besar, sedang mencari pegangan yang dianggap paling aman.

Dari satu gram emas di event open golf itu, saya melihat mengapa banyak orang sekarang memilih emas. Bukan sekadar mencari untung, tetapi mencari rasa aman.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img