Di tengah ekonomi yang tidak selalu memberi kepastian, kita bisa belajar dari pameran otomotif terbesar di Jakarta, Indonesia International Motor Show (IIMS). Lebih dari satu dekade lalu, saya sempat datang ke ajang ini. Skalanya waktu itu belum seramai sekarang, tetapi suasananya sudah terasa hidup.
Orang datang dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang sekadar melihat-lihat, ada pula yang benar-benar serius mencari kendaraan. Dari pengalaman itu saya menangkap bahwa event seperti ini tidak berdiri di atas euforia sesaat, tetapi tumbuh dari konsistensi yang dirawat dari tahun ke tahun.
Kesan itu kembali muncul ketika IIMS 2026 resmi dibuka pada Kamis, 5 Februari 2026, di JIExpo Kemayoran. Bahkan terasa lebih kuat. Pameran ini digelar selama 11 hari, 5–15 Februari 2026. Jam bukanya disesuaikan dengan waktu luang pengunjung. Premium Day pada 5 Februari dibuka pukul 13.00–21.00 WIB, hari kerja 11.00–21.00 WIB, dan akhir pekan 10.00–21.00 WIB. Pengaturan waktu yang detail ini menunjukkan bahwa penyelenggara sangat paham dengan ritme orang untuk datang.
Pendekatan serupa terlihat dari skema tiket. Tiket Exhibition Only dipatok Rp150 ribu untuk Premium Day, Rp50 ribu untuk weekdays, dan Rp90 ribu untuk weekend. Di luar itu, pengunjung diberi pilihan pengalaman tambahan melalui Infinite Live dan Infinite Show, konser musik, atraksi otomotif, dan hiburan—yang bisa diakses lewat sistem bundling atau top-up.
Bahkan tersedia kategori VIP Hospitality, mulai dari Silver Pass, Gold Pass, hingga Premium Pass dengan harga mencapai Rp1.999.999. Dari sini terlihat bahwa penyelenggara memahami kebiasaan pengunjung yang beragam. Ada yang datang untuk melihat tren, ada yang benar-benar ingin membeli, ada yang mengejar hiburan, dan ada pula yang mencari pengalaman eksklusif.
Hal lain yang patut dicatat, IIMS 2026 tidak lagi bergantung pada satu atau dua merek besar. Lebih dari 180 brand otomotif dan industri pendukung hadir. Angka ini menunjukkan bahwa industri otomotif Indonesia sedang tumbuh ke arah yang lebih ramai, lebih kompetitif, dan lebih terbuka.
Merek Jepang masih kuat. Ada Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Mazda, Nissan, dan Subaru. Brand Eropa dan Korea juga tetap konsisten hadir, seperti BMW, Mercedes-Benz, MINI, dan Hyundai. Namun yang paling terasa adalah menguatnya kendaraan listrik dan merek-merek baru, terutama dari Tiongkok, yakni BYD, Wuling, Chery, MG, GAC Aion, Geely, Zeekr, Xpeng, iCar, Jaecoo, dan lainnya. Ini semakin menegaskan bahwa elektrifikasi bukan lagi wacana, melainkan sudah menjadi arus utama.
Segmen roda dua pun tidak kalah hidup. Selain Honda, Yamaha, Kawasaki, dan Suzuki, hadir pula merek premium seperti Harley-Davidson, Ducati, Triumph, dan BMW Motorrad. Motor listrik seperti Alva dan Polytron juga mendapat ruang tersendiri.
Program yang ditawarkan pun beragam. Ada test drive dan test ride, atraksi otomotif, hiburan, hingga area gaya hidup seperti boating gathering di kawasan danau JIExpo. Inilah salah satu alasan mengapa event semacam ini bisa bertahan dan terus membesar. Pengunjung tidak dipaksa membeli, tetapi diajak merasakan.

Lantas, mengapa event seperti ini bisa konsisten digelar di Jakarta? Apakah tidak bisa digelar di Kaltim?
Kaltim kini berada di fase yang berbeda, terlebih sejak hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Komunitas otomotif berkembang, sektor aftermarket bergerak, minat terhadap kendaraan listrik mulai menguat, dan daya beli masih terjaga. Di saat yang sama, Kaltim menjadi bagian penting dari perhatian nasional dan arah pembangunan.
Karena itulah, memasuki HUT ke-6 Media Kaltim pada 14 Juli 2026, kami ingin meninggalkan sesuatu yang berjejak, khususnya bagi industri otomotif di daerah. Dari sanalah gagasan Auto Borneo kami siapkan, sebuah ajang otomotif regional dalam rangka memeriahkan HUT ke-6 Media Kaltim.
Auto Borneo lahir dari keinginan untuk menghadirkan ajang yang benar-benar relevan dengan Kaltim. Bukan meniru IIMS, tetapi memetik pelajaran tentang pentingnya konsistensi. Kami ingin fokus pada kebutuhan daerah, memberi ruang bagi brand nasional dan lokal, komunitas otomotif, UMKM otomotif, bengkel, pelaku aksesori dan suku cadang, serta konten kreatif dan diskusi publik.
Kami membayangkan Auto Borneo bukan sekadar pameran. Ajang ini menjadi tempat orang Kaltim merasa punya ruang sendiri—datang, melihat, mencoba, berdiskusi, lalu pulang dengan pengalaman. Ada display kendaraan, produk baru dan suku cadang, test drive terbatas, talkshow otomotif, aktivasi media, hingga kolaborasi komunitas.
Di tengah situasi ekonomi yang membuat orang berhitung lebih ketat, event seperti ini justru bisa menjadi pemantik. Mal bergerak. Usaha kecil hidup. Promosi tumbuh. Jaringan komunitas menguat. Dan yang sering luput disadari, event ini menghadirkan suasana optimistis, bahwa ekonomi daerah tidak selalu harus dibicarakan dengan nada murung.
Jika Jakarta punya IIMS, maka Kaltim seharusnya juga bisa—dengan ukuran kita, karakter kita, dan kebutuhan kita. Bukan untuk menyaingi siapa pun, melainkan untuk membuktikan bahwa daerah juga mampu menggerakkan industri, komunitas, dan optimisme.
Bukan soal besar atau kecil. Tapi soal keberanian untuk mulai, dan kesediaan untuk bertahan.
Semua itu tentu tidak akan terwujud tanpa dukungan seluruh pelaku industri otomotif dan pemerintah daerah. Kami berharap, dukungan itu bisa terbangun bersama demi Auto Borneo 2026 sebagai bagian dari perayaan 6 Tahun Media Kaltim. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.





