spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Backpaker Murah Bali–Singapura–Malaysia (1): Antara Doa, Desa Penglipuran hingga Langit Senja Kuta

Perjalanan ini berawal bukan dari rencana liburan. Tujuan utama saya ke Bali adalah menjenguk kakak kedua yang sedang sakit cukup serius. Ia tinggal di daerah Legian. Sudah lama kami tidak bertemu, dan saat mendengar kabarnya, saya merasa harus datang. Saya berangkat bersama istri dan putri saya, ditemani kakak saya yang nomor tujuh. Saya sendiri anak kedelapan.

Setiba di Denpasar, kami langsung menuju rumahnya. Kondisinya belum pulih, tapi ia masih bisa tersenyum menyambut kami. Saya hanya bisa berdoa agar ia diberi kesembuhan dan kekuatan. Tentang perjalanan batin ini, mungkin akan saya tulis lebih panjang di lain waktu.

Karena sudah berada di Bali, saya memanfaatkan waktu empat hari untuk sekadar “berlibur tipis-tipis”. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada target wisata tertentu. Saya hanya ingin menikmati suasana Pulau Dewata tanpa tergesa.

Di Bebek Tepi Sawah, menikmati makan siang di tengah hujan dengan pemandangan hijau yang menenangkan.

Kami menginap di Harris Hotel Kuta Galleria, hotel yang cukup strategis dan nyaman untuk keluarga. Hujan turun hampir setiap hari, tapi udara lembap dan langit mendung justru memberi ketenangan. Bali di musim hujan terasa lebih lembut dan lebih manusiawi.

Saya memulai perjalanan menuju Desa Adat Penglipuran di Bangli, salah satu desa terbersih di dunia. Begitu tiba, kesan pertama adalah keteraturan. Jalan batu tersusun rapi, rumah bambu berjajar simetris, dan aroma dupa memenuhi udara. Warga tampak berbincang santai sambil menata bunga persembahan, sementara ratusan siswa tengah melakukan studi tur. “Kami diminta mencari tahu tradisi di sini,” kata seorang siswa kelas 8 dari MTS Surakarta. Di Penglipuran, kebersihan bukan sekadar program, tapi sudah menjadi budaya. Desa ini hidup dalam keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Baca Juga:   Turun ke Pesisir, Aulia–Rendi Sikat Pungli dan Tuntaskan Blankspot

Dari Penglipuran, saya melanjutkan perjalanan ke Kintamani dengan harapan menikmati kopi panas sambil menatap Gunung Batur. Namun langit mendadak gelap, hujan deras turun tanpa jeda, dan kabut menutupi pemandangan. Saya memutuskan turun ke arah Ubud dan berhenti di restoran Bebek Tepi Sawah. Suasananya tenang, diapit hamparan sawah yang basah. Aroma sambal matah dan rempah khas Bali menyeruak dari dapur. Makan siang di tengah hujan itu menjadi momen paling berkesan. Kadang, perjalanan tak harus sempurna untuk meninggalkan kenangan yang baik.

Warga melaksanakan sembahyang menghadap laut, suasana spiritual di tepi ombak Pantai Sanur.

Sore harinya, kami menuju Pantai Sanur. Ombak kecil berkejaran di tepi pantai, beberapa warga berpakaian putih sembahyang menghadap laut. Saya duduk diam, memperhatikan mereka. Laut di Bali bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang spiritual di mana doa dan alam saling menyapa.

Keesokan harinya, hujan kembali turun. Saya memilih berkunjung ke The Keranjang dan Krisna Oleh-Oleh. Dua tempat yang sama-sama ramai, tapi punya karakter berbeda. The Keranjang tampil modern dan artistik, sementara Krisna tetap jadi favorit karena harganya bersahabat. Kami membeli beberapa oleh-oleh seperti pie susu, kopi, dan kacang Bali.

Setelah itu, kami singgah ke Pantai Kuta. Kontras dengan Sanur, Kuta lebih hidup. Turis berseliweran, musik kafe berdentum, pedagang asongan menawarkan jasa pijat dan minuman. Namun menjelang senja, suasana berubah lembut. Langit oranye keemasan, matahari perlahan tenggelam di balik laut, dan siluet patung kesatria Bali di gerbang pantai tampak gagah. Di bawah langit senja Kuta, saya merasa kembali pulang, bukan ke rumah, tapi ke rasa syukur.

Baca Juga:   Golf, Relasi, dan Ritme: Saya Temukan Lagi di PGB 2025
Patung kesatria Bali berdiri megah menyambut senja di Pantai Sanur.

Malamnya, saya sempat bertemu sahabat lama, Lukas Banu, alumni SMA 5 Balikpapan yang kini sukses sebagai lawyer internasional. Kami berbincang santai soal profesi dan rencana kecil mengembangkan SiaranBali.com, media hukum dan budaya yang sedang kami bangun bersama. Pertemuan itu singkat tapi berkesan. Mengingatkan bahwa perjalanan sering kali mempertemukan kita dengan masa lalu yang membawa inspirasi baru.

Empat hari di Bali berlalu cepat. Saya tak mengunjungi banyak tempat, tapi setiap langkah punya cerita. Bali kali ini bukan tentang petualangan besar, melainkan perjalanan kecil untuk menenangkan diri dan berterima kasih atas hidup.

Soal biaya, banyak yang mengira perjalanan lintas negara itu mahal. Faktanya, dengan perencanaan matang, semuanya bisa diatur tetap hemat. Total biaya perjalanan ini sudah termasuk tiket pesawat, sewa kendaraan, dan akomodasi — bertiga selama di Bali, serta berdua selama di Singapura dan Kuala Lumpur.

Tiket pesawat Balikpapan–Denpasar sekitar Rp1,8 juta, sewa mobil empat hari Rp1,3 juta, tiket Denpasar–Singapura Rp2,4 juta, bus Singapura–Kuala Lumpur Rp1 juta, dan tiket pulang Kuala Lumpur–Balikpapan Rp3,4 juta. Untuk penginapan: Harris Hotel Denpasar Rp1,8 juta (4 hari), Hotel Boss Singapura Rp4,8 juta (3 malam), dan Berjaya Times Square Kuala Lumpur Rp2,4 juta (2 malam).

Baca Juga:   132 Ton Beras Oplosan Terbongkar, Harga Naik, Warga Resah

Jika dijumlahkan, total keseluruhan perjalanan selama 9 hari ke tiga negara ini mencapai sekitar Rp19 juta. Apabila biaya hotel dipisahkan, maka biaya transportasi dan aktivitas wisata hanya sekitar Rp9,5 juta, masih tergolong hemat untuk perjalanan lintas negara dengan pengalaman penuh selama di Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur.

Bersama Lukas Banu, sahabat lama yang kini menjadi lawyer internasional, berbincang santai di Denpasar.

Bagi yang ingin lebih irit, banyak penginapan alternatif yang tetap nyaman. Di Singapura, ada Hotel 81 Bugis, The Pod Capsule Hostel, dan Beary Best Chinatown dengan tarif mulai Rp400–900 ribu per malam. Sementara di Kuala Lumpur, bisa memilih Citin Seacare Pudu, Hotel Sentral KL, atau Ahyu Hotel Chinatown dengan harga Rp350–550 ribu per malam. Dengan pilihan ini, biaya perjalanan bisa ditekan hingga 40 persen tanpa kehilangan kenyamanan.

Setelah urusan di Bali selesai, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke Singapura, lalu ke Kuala Lumpur. Anak saya lebih dulu kembali ke Balikpapan karena kuliah. Sejak awal, saya memang ingin mencoba perjalanan lintas negara dengan gaya backpacker — berjalan kaki, naik grab, naik MRT, dan menikmati kota dengan langkah perlahan.

Perjalanan di Singapura baru saya mulai Jumat (7/11) hari ini. Dan seperti biasa, setiap langkah baru selalu membawa rasa penasaran yang sama: tentang tempat yang belum dikunjungi, orang yang belum ditemui, dan cerita yang menunggu untuk ditulis. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img