spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Backpacker Murah Bali–Singapura–Malaysia (7-Habis): Sisa Ringgit, Gate L, dan Drama Imigrasi

Rabu, 12 November siang, kami bersiap meninggalkan Kuala Lumpur. Dua malam memang terasa singkat, tetapi cukup untuk menambah cerita baru setelah perjalanan panjang dari Bali dan Singapura. Seperti biasa, kami tidak terburu-buru. Kami memastikan tak ada barang tertinggal, turun ke lobi, menyelesaikan proses check-out, lalu memesan Grab menuju bandara.

Grab memang sangat penting untuk perjalanan gaya backpacker di Malaysia dan Singapura. Metode pembayaran wajib tertaut dengan benar, dan sejak awal saya memilih menggunakan kartu kredit agar tidak perlu menukar uang tunai terlalu banyak. Kuala Lumpur sangat nyaman untuk perjalanan cashless; cukup pesan, naik, turun—semua otomatis terbayar.

Sebelum berangkat, kami menghitung sisa ringgit yang tinggal sedikit. Biasanya memang sengaja saya atur seperti itu. Uang tunai hampir habis menjelang pulang; daripada ditukar kembali dan rugi kurs, lebih baik dipakai untuk membeli oleh-oleh kecil di bandara.

Deretan gerai kuliner dan toko oleh-oleh di area publik KLIA2 yang selalu ramai penumpang.

Perjalanan ke KLIA2 lancar. Terminal ini besar, modern, dan menjadi pusat maskapai low-cost seperti AirAsia. Begitu memasuki area keberangkatan, kami langsung menuju mesin self check-in.

KLIA2 memakai sistem otomatis untuk seluruh proses AirAsia, mulai dari mencetak boarding pass hingga label bagasi. Kami tinggal memindai paspor, memilih penerbangan, dan mesin mencetak boarding pass serta bag tag.

Baca Juga:   Penghapusan Denda PBB-P2 di Bontang: Niat Wali Kota Meringankan vs Birokrasi yang Membelit

Setelah memasang label pada koper, kami menuju area self baggage drop. Cukup meletakkan koper di belt, memindai boarding pass, lalu sistem langsung menimbang dan mengirim bagasi ke jalur pengangkutan. Prosesnya cepat dan teratur. Seorang petugas berjaga di area itu, sesekali membantu penumpang yang kesulitan. Karena saya sudah membeli jatah 20 kg, koper langsung lolos tanpa masalah.

Setelah itu kami diarahkan menuju pintu keberangkatan. Di bagian ini ada pemeriksaan tambahan. Beberapa penumpang terlihat tertahan karena berat tas kabin mereka melebihi batas 7 kg yang diperbolehkan. Ketika giliran kami, tas ransel saya dan istri tidak diminta ditimbang lagi. Petugas langsung mempersilakan lewat.

Ulasan tentang ketatnya aturan bagasi di KLIA2 sangat membantu kami. Karena sudah menyiapkan semuanya sejak awal, urusan bagasi dan bawaan tidak lagi menjadi masalah. Alhasil, proses hari itu berjalan mulus tanpa hambatan.

Dengan urusan bagasi selesai, kami mengikuti petunjuk menuju Gate L, area keberangkatan internasional. Lokasinya berada cukup jauh di sayap kanan bawah KLIA2 sehingga perlu berjalan melalui koridor panjang dan beberapa eskalator.

Baca Juga:   Blunder Pajak di Pati vs Kebijakan Pro Rakyat ala Kaltim

Begitu tiba di area Gate L, saya langsung paham mengapa banyak penumpang menyebut ruang tunggunya terasa sempit. Area ini memang tidak sebesar koridor shopping “gateway@KLIA2”. Kursi disusun rapat dan hampir semuanya terisi. Penumpang dari berbagai rute internasional—Bangkok, Jakarta, Hanoi, Manila—berkumpul di area yang sama. Meski padat, suasananya tetap tertib. Kami beruntung menemukan dua kursi kosong untuk menunggu waktu boarding.

Sisa ringgit kami akhirnya dibelanjakan untuk membeli cokelat dan dua minuman dingin. Hal kecil seperti ini justru membuat perjalanan backpacker terasa menyenangkan.

Pesawat AirAsia bersiap di apron KLIA2 menjelang keberangkatan.

Pesawat dijadwalkan lepas landas pukul 15.30 dan tidak ada perubahan jadwal. Namun sesampainya di Bandara Balikpapan pukul 18.30 Wita, saya justru tertahan cukup lama di pemeriksaan imigrasi.

Petugas menjelaskan bahwa mulai Oktober 2025, seluruh WNI yang kembali dari luar negeri wajib mengisi formulir digital kedatangan melalui alamat allindonesia.imigrasi.go.id. Mirip e-Customs, tetapi versi baru ini mencakup juga klaim barang bawaan yang dihitung dalam bea cukai. Formulir ini sudah bisa diisi tiga hari sebelum keberangkatan. Karena tidak membaca aturan terbaru, saya sama sekali tidak mengisinya.

Baca Juga:   Saat Affan Tumbang, Baracuda Melaju, dan Spekulasi Kaburkan Demokrasi

Akibatnya, saya harus mengisi formulir itu langsung di area imigrasi. Prosesnya sebenarnya tidak rumit, tetapi tetap memakan waktu. Setelah saya selesai mengisi, data istri sempat tidak terbaca di sistem sehingga petugas harus membantu memperbaikinya. Ada rasa menyesal juga karena hal seperti ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.

Pelajarannya jelas: selalu cek aturan terbaru sebelum pulang ke Indonesia. Sistem digital sekarang berubah cepat, dan jauh lebih nyaman mengisi formulir dari hotel daripada terburu-buru di depan pemeriksaan imigrasi.

Setelah melewati imigrasi, semuanya terasa lebih ringan. Tinggal mengambil bagasi dan berjalan menuju pintu keluar. Di kepala saya terlintas kembali perjalanan tiga kota—Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur—yang ternyata menyimpan banyak catatan kecil namun berharga.

Perjalanan backpacker kali ini mungkin tidak penuh destinasi besar, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih santai: berjalan, melihat, dan merasakan. Sisanya menjadi cerita—perjalanan tanpa target, tetapi kaya pengalaman. (habis)

Oleh: Agus Susanto S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img