spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Backpacker Murah Bali–Singapura–Malaysia (5): Menyebrang ke Kuala Lumpur Hanya Rp459 Ribu, Ditutup Kejutan Malam di Jalan Alor

Senin (10/11) pagi, suasana di Hotel Boss terasa lebih ramai dari biasanya. Banyak tamu bersiap check-out. Ada yang menurunkan koper ke lobi, ada yang terburu-buru memanggil Grab. Saya dan istri sarapan roti seadanya sambil menyusun rencana singkat untuk perjalanan menuju Kuala Lumpur.

Kami memesan Grab menuju titik keberangkatan bus di Bugis. Aplikasinya sama seperti di Indonesia. Praktis dan mudah. Pembayarannya fleksibel. Bisa tunai atau bisa dihubungkan ke kartu kredit. Tiket bus Cityline Express yang saya beli seharga SGD 35 per orang, bila dirupiahkan sekitar Rp459.296. Cukup terjangkau untuk perjalanan lintas negara sejauh 350 km – 360 km.

Sekitar pukul 09.30, kami tiba di Bugis MRT Exit D, lokasi penjemputan Cityline Express. Tepat di depan The Snooze Hotel, beberapa penumpang sudah menunggu. Ada pekerja migran dengan ransel besar, turis India, hingga pasangan bule yang tampak masih menikmati sisa liburan mereka.

Area depan The Snooze Hotel, Bugis – titik penjemputan bus Cityline Express

Bus berangkat pukul 10.30. Kursinya empuk, AC dingin, dan laju bus stabil sejak awal. Dari jendela besar itu, Singapura perlahan menjauh. Gedung rapi berganti papan petunjuk Johor Bahru. Di Tuas Checkpoint, proses imigrasi Singapura berlangsung cepat. Masuk ke imigrasi Malaysia sedikit lebih padat tetapi tetap tertib. Setelah paspor dicap, bus berhenti lagi untuk pemeriksaan barang di area bea cukai, sebelum penumpang diarahkan berganti bus dan sopir.

Baca Juga:   Roadshow Pengurus BMPS Kaltim (1): Dari Bontang, Konsolidasi Pendidikan Swasta Dimulai

Interior bus pengganti hampir sama. Kursi bisa direbahkan, ruang kaki lega, dan penumpang mulai diam. Sebagian tidur, sebagian sibuk dengan ponsel. Memasuki wilayah Malaysia, pemandangan berubah drastis. Hamparan kebun sawit membentang sejauh mata memandang. Jalan raya terasa lebih lengang.

⁠Pemandangan kebun sawit di sepanjang highway Malaysia.

Di tengah perjalanan, bus berhenti di sebuah foodcourt besar. Lampu neon terang, etalase kaca menampilkan kari, nasi briyani, roti canai, hingga mee kari merah pekat. Saya memesan nasi lemak kambing, sementara istri memilih lontong sayur. Makanan sederhana, tetapi terasa pas setelah duduk berjam-jam.

Makan siang di foodcourt Malaysia saat perjalanan darat Singapura–Kuala Lumpur.

Menjelang sore, atau sekitar enam jam perjalanan, bangunan-bangunan tinggi mulai terlihat. Arus kendaraan memadat. Kuala Lumpur menyambut dengan denyut kota yang terasa familiar sekaligus berbeda. Bus berhenti tidak jauh dari tempat kami menginap, Berjaya Times Square Hotel, lokasi strategis di pusat kota.

Setelah istirahat sebentar dan salat, malamnya kami berjalan ke Jalan Alor. Lampion merah masih menggantung, aroma masakan memenuhi lorong, dan suara wajan terdengar di mana-mana. Namun satu pemandangan langsung mencuri perhatian: puluhan perempuan muda duduk rapi di meja panjang, semuanya sedang melakukan live mukbang bersamaan.

Baca Juga:   Ultimatum Wali Kota Neni: Masjid Terapung Harus Rapi dalam Seminggu!
Suasana ramai di sepanjang Jalan Alor, Kuala Lumpur.

Ringlight menyala terang, tripod berjejer, dan mereka berbicara ke kamera sambil makan dengan gaya masing-masing. Jalan Alor malam itu terasa berbeda—ramai, hidup, dan penuh aktivitas digital.

Deretan konten kreator melakukan live mukbang di Jalan Alor.

Beberapa wisatawan Indonesia yang duduk dekat kami sempat berkomentar pelan, “Wah, Malaysia sekarang ramai sekali ya. Kayak Seoul versi tropis.” Ada yang menambahkan sambil tertawa, “Ini kalau direkam bisa viral. Mereka makan lebih rapi dari kita.” Saya hanya tersenyum. Dunia memang berubah cepat, dan Jalan Alor malam itu salah satu buktinya.

Begitulah hari pertama di Kuala Lumpur. Perjalanan darat dari Singapura memberi ruang untuk melihat hal-hal kecil di sepanjang jalan. Sementara malamnya, menunjukkan sisi lain kota yang penuh kejutan. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img