spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Backpacker Murah Bali–Singapura–Malaysia (3): Dari Kuil, Masjid, hingga Air Terjun Indoor Tertinggi di Dunia

Hari ketiga di Singapura, saya tidak menargetkan tempat-tempat wisata besar. Tujuannya hanya ingin melihat kembali Little India dan Chinatown, dua kawasan yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu.

Keduanya selalu punya karakter kuat, mewakili keragaman kota ini yang ramai tapi tetap tertib. Di penghujung hari, saya menutup perjalanan dengan kunjungan ke Changi Jewel, yang mulai beroperasi 2019. Tempat berdirinya air terjun indoor tertinggi di dunia.

Perjalanan pagi dimulai dari MRT Lavender menuju Little India Station. Begitu keluar di Exit C, aroma rempah dan dupa langsung menyeruak. Di sebelah kiri berdiri Tekka Centre, pasar dan food court legendaris yang tak pernah sepi.

Lantai bawahnya pasar basah, penuh warna dari tumpukan sayur, ikan segar, hingga rempah khas India Selatan. Masih di lantai bawah, juga ada deretan kedai makanan menjajakan roti prata, nasi briyani, hingga kari kambing dengan kuah kental menggoda.

Saya memesan dan istri memilih martabak kambing yang disajikan dengan kuah kari. Karena porsi di sini besar, satu menu sudah cukup untuk berdua. Di kedai lain saya menambah pesanan kelapa muda dingin. Segar sekali di tengah udara siang. Sebagai penutup, saya mencoba es cendol durian. Aromanya tajam tapi manisnya pas. Harga makanan di sini memang tinggi. Kalau dirupiahkan, untuk martabak kambing ukuran kecil hingga besar, sekitar Rp70 ribu – 150 ribu per porsi. Tapi cita rasanya tak mengecewakan.

⁠Suasana makan siang di Tekka Centre yang selalu ramai, aroma kari dan roti prata memenuhi udara.

Dari Tekka Centre, kami berjalan sekitar sepuluh menit ke arah Sri Veeramakaliamman Temple, kuil Hindu tertua di Singapura yang berdiri sejak 1855. Arsitekturnya penuh patung Dewa Kali dengan detail menakjubkan. Saat itu kuil belum dibuka, jadi kami hanya berdiri di luar pagar, menikmati keindahan ukirannya dari dekat.

Baca Juga:   Final Smansa vs YPK Bontang: Laga Panas, Sorakan Suporter, dan Emosional Orang Tua

Sepanjang jalan menuju kuil, toko-toko menjual kain sari, perhiasan emas, dupa, hingga minyak wangi tradisional India. Semuanya ramai tapi tertib.

Sebelum kembali ke stasiun MRT, saya sempat singgah di Tan Teng Niah House, rumah kayu berwarna-warni di Belilios Lane yang sering disebut bangunan paling fotogenik di Little India. Warna catnya mencolok: merah, biru, hijau, kuning. Rumah ini seolah menjadi lambang semangat komunitas Tionghoa-India di kawasan tersebut. Banyak wisatawan berhenti berfoto, dan saya pun duduk sejenak di teras depannya, menikmati paduan warna dan aroma dupa yang samar.

Tan Teng Niah House, Little India. Rumah warna-warni paling ikonik di Little India, simbol harmoni budaya Tionghoa–India yang masih terjaga.

Setelah puas berkeliling, kami melanjutkan perjalanan ke Chinatown. Begitu keluar dari stasiun, suasananya berubah total. Jalan Pagoda dipenuhi lampion merah, toko teh, dan deretan suvenir. Namun tujuan utama saya bukan berbelanja, melainkan mengunjungi Masjid Jamae (Chulia). Salah satu masjid tertua di Singapura yang berdiri berdampingan dengan kuil Buddha Tooth Relic dan Sri Mariamman Temple.

Masjidnya sederhana, berwarna hijau pucat dengan dua menara kembar di depan. Begitu masuk ke halaman, udara terasa teduh dan tenang. Lantai bersih mengilap, tikar rapi berjajar.

Waktu sudah melewati zuhur dan menjelang asar. Saya mengambil air wudu di sisi belakang masjid, lalu menunaikan salat jama-qashar. Saat itu, jamaah tak banyak. Hanya beberapa pekerja keturunan India dan wisatawan muslim yang datang bergantian.

Masjid Jamae (Chulia), Chinatown. Masjid tua bergaya India Selatan, berdiri berdampingan dengan kuil dan gereja di jantung Chinatown.

Setelah salam terakhir, saya duduk sejenak di teras. Dari tempat itu, saya melihat sejumlah turis Tiongkok turut masuk ke masjid. Petugas telah menyiapkan pakaian tertutup bagi wisatawan yang mengenakan busana terbuka. Suasana tersebut terasa menenangkan, menghadirkan kedamaian di tengah hiruk-pikuk kota tua Chinatown.

Baca Juga:   PBB Naik, Transfer Pusat Turun, Rakyat Jadi Tumbal Fiskal?

Dari halaman masjid, langkah saya berlanjut hanya beberapa menit ke arah Buddha Tooth Relic Temple, bangunan merah megah yang berdiri di sudut South Bridge Road. Dari kejauhan saja, arsitekturnya sudah memikat. Atap bertingkat dengan detail kayu yang rumit dan garis simetris yang nyaris sempurna.

Di halaman depan, sudah tercium aroma dupa. Orang-orang datang silih berganti. Sebagian berdoa, sebagian hanya melihat-lihat. Saya melangkah pelan ke dalam aula utama. Ruangannya luas, dengan ratusan patung Buddha tersusun rapi di dinding. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan.

Ruang utama kuil yang memancarkan ketenangan, dengan ribuan patung Buddha tersusun rapi di dinding emas.

Di tengah ruangan, beberapa biksu sedang membaca parita, sementara pengunjung lain duduk dalam hening. Tidak ada suara keras. Saya berdiri beberapa saat, mencoba memahami suasana sakral yang terpancar dari setiap detilnya. Dari ukiran naga di tiang kayu, hingga lantunan doa.

Buddha Tooth Relic Temple, Chinatown. Kuil megah berarsitektur Tiongkok klasik, pusat spiritual sekaligus destinasi favorit wisatawan dunia.

Menjelang sore, saya dan istri berangkat menuju Changi Jewel. Dari MRT Maxwell, perjalanan ke bandara cukup panjang, tapi nyaman. Kereta berhenti di Terminal 2, lalu kami melanjutkan dengan Skytrain menuju Terminal 1, lokasi utama Jewel.

Terminal 2 Changi Airport, layar raksasa menampilkan air terjun digital, perpaduan teknologi dan seni di bandara paling futuristik dunia.

Sebelum berpindah terminal, saya sempat berjalan-jalan sejenak di Terminal 2 yang baru dibuka kembali setelah renovasi panjang. Di sini, teknologi berpadu dengan seni: dinding raksasa menampilkan air terjun digital 3D dengan efek ombak dan cahaya yang seolah nyata. Orang-orang berhenti, merekam dengan ponsel, dan terpaku menatapnya. Saya pun ikut terpukau. Bukan karena kemewahannya, tetapi karena ketenangan yang diciptakan ruang itu.

Baca Juga:   Rehabilitasi Ira Puspadewi: Ketika Keputusan Bisnis Diadili Seperti Kejahatan

Dari Terminal 2 kami naik Skytrain ke Terminal 1. Begitu memasuki kubah kaca raksasa Jewel, pemandangan luar biasa langsung menyambut: Rain Vortex, air terjun setinggi 40 meter yang jatuh dari langit-langit kaca ke taman tropis di bawahnya. Air memantulkan cahaya sore seperti tirai kristal hidup.

⁠Menikmati senja di atas Canopy Bridge, tempat terbaik memandangi Rain Vortex dan hutan buatan di bawahnya.

Untuk menikmati kawasan ini, pengunjung perlu membeli tiket masuk. Lebih praktis dan murah bila memesan melalui Traveloka. Cukup tunjukkan bukti pembelian dan pindai barcode di gerbang masuk. Paketnya beragam; saya memilih hanya untuk melintasi Canopy Bridge dan Canopy Park.

Saya menaiki eskalator menuju taman di lantai atas. Udara di sana sejuk dan wangi bunga tropis menguar lembut. Dari Canopy Bridge, pemandangan ke bawah sungguh menakjubkan. Air terjun di tengah kubah, taman bertingkat, dan kereta bandara yang melintas perlahan di kejauhan.

Di sisi taman terdapat drinking fountain, air minum gratis yang jernih dan sejuk. Saya meneguk langsung dari kerannya. Toilet di dekatnya pun bersih, semua serba otomatis.

Perjalanan hari ini berakhir di sini. Saya dan istri kembali ke hotel menggunakan MRT, melewati rute yang mulai terasa akrab di kepala. Tubuh lelah, tapi hati masih penuh rasa ingin tahu. Esok pagi perjalanan akan berlanjut, menelusuri kawasan Bugis—menyusuri Masjid Sultan, Kampong Glam, dan menutup hari di Jurong East, pusat perbelanjaan terbesar di Singapura. Di sanalah berdiri IMM Mall, surga belanja dengan diskon besar untuk berbagai merek ternama. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img