Arus Mudik Lebaran Jalur Laut (2): Dari Surabaya ke Kediri hingga Jember Tanpa Macet Panjang

Pagi itu, Kamis (19/4) pukul 07.00 WIB, kapal akhirnya sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Penumpang mulai bersiap turun, membawa barang masing-masing. Antrean terbentuk di lorong kapal. Semua berjalan pelan, menunggu giliran.

Penumpang berdesakan di lorong kapal saat menunggu giliran turun usai sandar. Foto: Agus S/Media Kaltim

Di dalam kapal, suasana sempat padat. Koper, ransel, hingga kardus dibawa bersamaan. Tidak ada yang terburu-buru, tapi semua ingin segera turun.

Kepadatan penumpang di tangga kapal saat proses turun berlangsung secara bertahap. Foto: Agus S/Media Kaltim

Di dek kendaraan, situasinya lebih teratur. Truk, mobil pribadi, dan sepeda motor keluar satu per satu. Petugas mengatur ritme.

Meski kapal sudah sandar, penumpang dan kendaraan tidak bisa langsung keluar. Proses bongkar muat membutuhkan waktu. Sekitar satu jam sejak kapal merapat, baru kami benar-benar bisa keluar dari kapal.

Proses bongkar kendaraan di dalam kapal saat tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto: Agus S/Media Kaltim

Begitu roda kendaraan menyentuh darat, saya langsung membuka Google Maps. Tujuan kami adalah Kediri, menjemput putra ketiga kami yang telah menyelesaikan masa pengabdian di Pondok Pesantren Gontor 3.

Arus kendaraan cukup padat, didominasi mobil pribadi. Tapi tidak sampai macet. Kami masuk jalur tol dari arah Surabaya. Lalu lintas relatif lancar. Kendaraan bisa melaju stabil, meski di beberapa titik terlihat kepadatan.

Baca Juga:   Bawaslu Kuat, Demokrasi Tidak Mudah Dibeli

Perjalanan menuju Kediri ditempuh sekitar tiga jam. Kami hanya satu kali singgah di rest area. Tidak lama. Sekadar istirahat dan memastikan kondisi tetap siap melanjutkan perjalanan.

Sampai di Kediri, kami tidak berlama-lama. Langsung menuju lokasi Gontor 3. Anak kami sudah menunggu. Pertemuan singkat, lalu kami lanjut lagi. Kini dalam satu mobil sudah lengkap—istri dan tiga anak saya.

Tujuan berikutnya Kabupaten Jember, tepatnya Desa Sukomakmur, Dusun Mundurejo, Kecamatan Umbulsari.

Dari Kediri, perjalanan dilanjutkan melalui jalur tol dari arah Jombang, lalu keluar di Gerbang Tol Probolinggo Timur. Setelah itu, perjalanan diteruskan melalui Leces, Lumajang, menuju arah Tanggul.

Antrean kendaraan di Gerbang Tol Probolinggo Timur saat arus mudik tetap padat namun lancar. Foto: Agus S/Media Kaltim

Sepanjang perjalanan, arus kendaraan tetap padat, tapi lancar. Tidak ada kemacetan panjang. Ini yang terasa berbeda. Mudik tetap ramai, tapi tidak menumpuk di satu titik.

Perjalanan dari Kediri ke Jember ditempuh sekitar lima jam. Kami tiba di Mundurejo sekitar pukul 17.15 WIB.

Di rumah, suasana biasa saja. Istri memang tidak memberi tahu orang tuanya soal kedatangan kami. Yang tahu hanya adik dan sepupunya.

Baca Juga:   47 Tahun: Bukan Tambah Umur, Tapi Tambah Manfaat

Begitu mobil kami masuk dan parkir di halaman, belum ada yang keluar. Orang tua terlihat di belakang rumah, melihat mobil kami. Awalnya belum menyadari.

Setelah melihat lebih dekat, baru sadar bahwa putri dan cucu-cucunya yang datang. Tidak ada sambutan khusus. Tidak ada persiapan.

Kami langsung masuk ke rumah, sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Perjalanan hari itu selesai. Dari laut, pelabuhan, hingga jalan darat, semuanya berjalan dalam satu rangkaian.

Dan seperti yang saya tulis sejak awal, mudik bukan hanya soal sampai. Tapi bagaimana perjalanan itu dijalani. (Bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img