Arus Mudik Lebaran Jalur Laut (1): Doa di Makam, Antrean Panjang, hingga Malam di Laut

Ini perjalanan kedua saya menggunakan kapal laut menuju Surabaya. Perjalanan sebelumnya, tiga tahun lalu, juga saya tempuh bersama istri dan putri saya. Kali ini lebih lengkap, bersama istri, putri pertama, dan putra ketiga.

Satu yang belum ikut, anak kedua kami. Masih di Pondok Pesantren Gontor 3 Kediri, menyelesaikan masa pengabdian.

Perjalanan ini sekaligus untuk menjemputnya. Jadi ini bukan sekadar mudik Lebaran, tapi perjalanan untuk kembali menyatukan keluarga.

Awalnya, perjalanan ini tidak direncanakan lewat laut. Saya sudah menyiapkan opsi menggunakan pesawat, dengan jadwal setelah Lebaran. Lebih cepat, lebih praktis. Tapi seperti biasa, rencana di lapangan bisa berubah.

Tiket pesawat mulai terasa tidak fleksibel. Harga juga tidak lagi masuk akal untuk perjalanan keluarga. Dari situ, saya mulai melirik kembali jalur laut.

Masalahnya, tiket kapal di musim mudik bukan perkara mudah. Harus dipesan jauh-jauh hari. Saya mulai mencari sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Awalnya mencoba lewat aplikasi resmi DLU, tapi sebagian besar sudah penuh. Kalau pun ada, tersisa terbatas di kelas ekonomi.

Akhirnya saya mendapatkan tiket melalui Faspay. Dan masih bersyukur, saya mendapatkan kelas III untuk keberangkatan 17 Maret.

Harga tiket lebih mahal dari biasanya. Tiket penumpang Rp862.500 per orang. Untuk kendaraan Rp2.972.500. Total perjalanan kami sekitar Rp6.422.500. Dengan komposisi keluarga seperti kami, hitungannya masih masuk. Apalagi kendaraan bisa langsung digunakan begitu tiba di Surabaya.

Baca Juga:   APBN 2026: Kaltim Dikebiri, Pusat Membengkak

Soal surat jalan kendaraan juga sering ditanyakan. Apakah wajib?

Secara aturan, surat jalan diperlukan jika kendaraan bukan milik sendiri. Misalnya masih kredit atau atas nama orang lain. Kalau kendaraan milik pribadi dan atas nama sendiri, cukup membawa STNK. Untuk berjaga-jaga, bisa membawa fotokopi BPKB.

Dalam perjalanan ini, saya siapkan semuanya. Namun di pelabuhan, tidak ada petugas yang menanyakan itu secara detail. Yang diperiksa hanya tiket penumpang dan kendaraan. Selebihnya berjalan normal.

Perjalanan ini kami mulai dari Bontang, Selasa, 17 Maret. Pukul 06.30 WITA kami berangkat. Singgah di Samarinda, lalu lanjut ke Balikpapan.

Sebelum masuk Pelabuhan Semayang, kami sempat ziarah ke makam orang tua.

Tidak lama. Kami membaca doa, lalu melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 16.00 WITA, kami tiba di pelabuhan. Padat. Antrean kendaraan mengular panjang. Semua bergerak pelan. Masuk antrean saja butuh waktu. Untuk benar-benar masuk ke kapal, kami baru bisa sekitar pukul 19.00 WITA. Hampir tiga jam menunggu.

Begitu masuk ke kapal, suasana langsung berubah. Lebih tertata. Petugas sibuk, mengarahkan kendaraan parkir. Penumpang dipandu ke jalur masing-masing.

Dharma Lautan Utama (DLU) memang dikenal sebagai kapal swasta yang representatif. Itu terasa sejak awal.

Saya sempat menyusuri bagian dalam kapal KM Dharma Kencana V. Meski sudah pernah naik sebelumnya, saya ingin memastikan kondisi terbaru.

BACA JUGA :  Catatan FGD Kodifikasi UU Pemilu (3): Afirmasi Perempuan, Rekrutmen Penyelenggara, Gakkumdu, dan Efisiensi Demokrasi

Dari informasi petugas, pada musim mudik ini kapal menampung sekitar 1.500 penumpang. Pembagian kelas cukup jelas.

Baca Juga:   Dari Wisuda STITEK Bontang (3): Logo Universitas, Prestasi Mahasiswa dan Dosen

Untuk VIP, kelas I, II, hingga III, penumpang berada di dalam kamar, dengan fasilitas yang berbeda-beda.

Di kelas III tempat saya, satu kamar berisi sekitar delapan tempat tidur bertingkat. Kondisinya bersih dan cukup nyaman untuk perjalanan panjang.

Saya juga pernah mencoba kelas II sebelumnya. Isinya empat orang dalam satu kamar. Lebih lega, dengan tambahan fasilitas seperti televisi.

Untuk musala juga tersedia dan bersih. Namun saat waktu salat, harus bergantian. Bisa beberapa gelombang dalam satu waktu.

Untuk kelas ekonomi duduk, disiapkan kursi dalam ruangan besar. Ada hiburan juga. Semalam sempat ada penyanyi yang mengisi suasana. Ruangannya luas dan menampung banyak penumpang.

Untuk ekonomi tidur, tersedia satu ruangan besar dengan banyak tempat tidur.

Sementara di kelas ekonomi umum, penumpang bebas menggelar alas—karpet, tikar, atau kasur kecil—selama tidak mengganggu jalur lalu lintas orang.

Terlihat penuh. Tapi tetap tertib. Petugas juga rutin membersihkan area.

Di dalam kapal juga tersedia barbershop, bagi penumpang yang ingin merapikan rambut.

Selama perjalanan, kami juga mendapat fasilitas makan. Mulai dari sahur, makan siang, berbuka, hingga sahur lagi pagi ini.

Menunya sederhana, tapi cukup dan layak.

Baca Juga:   Pahitnya Menang Lelang Negara (5): Pertarungan Bukti di Ruang Sidang

Jika ingin tambahan, tersedia kantin dan restoran kecil. Menjual makanan ringan, kopi, hingga kebutuhan lain seperti perlengkapan mandi.

Kembali ke dek, suasana malam terasa lebih tenang. Lampu kapal memantul di laut. Angin cukup kencang, tapi menenangkan. Beberapa penumpang masih duduk, berbincang ringan. Sebagian lain mulai tertidur.

Saya duduk cukup lama. Sambil berbincang dengan penumpang lain. “Capeknya di pelabuhan saja,” kata seorang bapak.

“Di atas kapal malah bisa istirahat.”

Yang lain menambahkan, “Kalau bawa mobil, ini paling masuk akal.”

Selama perjalanan, satu hal yang terasa, jaringan internet hampir tidak ada.

Kalau pun ada, hanya di beberapa titik selama perjalanan. Biasanya di dek atas. Itu pun tidak stabil.

Di dalam ruang kamar, sejak awal naik kapal, praktis tidak ada jaringan.

Baru menjelang pagi, saat kapal mendekati Surabaya, sekitar perairan Madura, sinyal mulai muncul kembali.

Pagi ini saya masih berada di atas kapal. Sambil menunggu sandar yang dijadwalkan pukul 08.00 WITA, saya menuliskan catatan ini.

Perjalanan ini masih panjang. Dan ini baru bagian pertama. Catatan berikutnya akan saya tulis tentang kepadatan jalur darat di Surabaya, perjalanan ke Kediri menjemput putra saya, hingga ke Jember, sampai nanti arus balik di awal April.

Karena mudik bukan hanya soal sampai. Tapi bagaimana perjalanan itu dijalani. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img