SANGATTA – Pengalaman terganggunya layanan air bersih akibat banjir ekstrem pada 2022 menjadi pelajaran penting bagi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur.
Saat itu, dua unit intake atau fasilitas pengambilan air baku terdampak luapan sungai hingga harus menghentikan operasional selama 42 hingga 72 jam. Akibatnya, distribusi air bersih ke pelanggan sempat terganggu dan sebagian wilayah mengalami penghentian layanan hampir tiga hari.
Direktur Teknik Perumdam TTB Kutim, Galuh Boyo Munanto, mengatakan perusahaan kini memperkuat sistem pengambilan air baku dengan mengandalkan 24 intake yang dirancang lebih adaptif terhadap perubahan debit air dan potensi banjir.
“Model intake yang kita gunakan saat ini sudah menyesuaikan dengan kondisi sungai, terutama untuk menghadapi fluktuasi debit air saat musim hujan,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Saat ini Perumdam TTB memiliki 24 unit intake yang tersebar di berbagai wilayah pelayanan. Fasilitas tersebut terdiri atas 12 unit ponton (floating), lima unit jembatan, enam unit sumuran, dan satu unit bronkaptering.
Khusus di wilayah Kudungga, model ponton atau floating menjadi pilihan utama karena dinilai paling sesuai dengan karakter Sungai Sangatta yang kerap mengalami perubahan muka air secara signifikan.
“Model ponton atau floating ini relatif aman terhadap naik turunnya muka air baku yang fluktuatif. Jadi lebih fleksibel dibandingkan tipe lainnya,” jelas Galuh.
Sementara itu, intake tipe tetap seperti sumuran dibangun berdasarkan perhitungan elevasi dan data historis ketinggian muka air agar tetap dapat berfungsi dalam berbagai kondisi.
Galuh mengungkapkan, banjir besar pada 2022 menjadi salah satu evaluasi terbesar bagi perusahaan. Saat itu dua intake terdampak langsung sehingga harus dihentikan sementara untuk menjaga keamanan instalasi.
“Waktu itu dua intake terdampak banjir ekstrem dan harus shutdown selama 42 sampai 72 jam untuk menjaga keamanan,” ungkapnya.
Selain mengganggu distribusi air bersih, banjir juga menyebabkan masuknya sampah dan endapan lumpur ke area intake yang membutuhkan penanganan tambahan. Kondisi tersebut turut berdampak pada potensi kehilangan pendapatan karena distribusi air tidak dapat berjalan normal.
Sebagai langkah mitigasi, Perumdam kini menyiapkan berbagai antisipasi, mulai dari penyampaian informasi lebih awal kepada pelanggan hingga penyediaan distribusi air menggunakan mobil tangki apabila terjadi gangguan layanan.
Dengan berbagai pembenahan yang telah dilakukan, Perumdam TTB optimistis sistem intake yang dimiliki saat ini lebih siap menghadapi banjir maupun cuaca ekstrem di masa mendatang.
“Kita terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar layanan air bersih tetap bisa berjalan meskipun di tengah kondisi cuaca ekstrem,” pungkas Galuh.
Penulis: Ramlah
Editor: Agus S.





