SAMARINDA – Pasar modal Indonesia kembali dihantam tekanan besar pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam 1,70 persen atau turun 101,28 poin ke level 5.839,84.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia yang ditayangkan IDX Channel, IHSG bahkan sempat jatuh lebih dalam hingga menyentuh level 5.644,23 pada sesi pertama perdagangan sebelum akhirnya mengalami rebound terbatas menjelang penutupan pasar.
Tekanan terbesar datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang dilaporkan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut langsung memicu kepanikan di pasar keuangan dan mendorong aksi jual besar-besaran, terutama oleh investor asing.
Pelemahan rupiah membuat investor global memilih mengambil langkah risk-off dengan menarik dana dari aset-aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor kurs, tekanan juga datang dari proses rebalancing indeks global MSCI yang memicu aksi lepas saham pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar.
Saham-saham unggulan perbankan dan konglomerasi menjadi sasaran utama tekanan jual. Saham BBCA tercatat terkoreksi hingga 3,62 persen, BBRI turun 3,79 persen, dan BMRI melemah 2,47 persen.
Di sektor konglomerasi, saham BRPT anjlok 9,07 persen sementara ASII turun 4,13 persen.
Sentimen negatif pasar juga diperparah oleh rumor mengenai potensi penyesuaian prospek rating utang Indonesia setelah kedatangan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings ke Jakarta.
Selain itu, laporan terbaru Moody’s terkait Danantara Investment Management (DIM) yang memperoleh peringkat Baa2 dengan outlook negatif turut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal nasional.
Menanggapi gejolak tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi aman.
Menurutnya, defisit APBN hingga Mei 2026 masih berada di level 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga tidak ada alasan untuk panik berlebihan.
“Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Jadi ini mungkin ada short, ketakutan orang jangka pendek aja. Fondasi ekonominya bagus, gak ada masalah,” kata Purbaya.
Meski demikian, tekanan terhadap IHSG dan rupiah diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang rilis sejumlah data ekonomi global dan arah kebijakan moneter internasional. (MK)
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S





