BALIKPAPAN – Belum genap setengah tahun berjalan, angka bunuh diri di Kota Balikpapan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kepolisian mencatat delapan kasus bunuh diri terjadi hanya dalam empat bulan pertama 2026.
Jumlah ini sudah melampaui separuh dari total kasus sepanjang 2025 yang mencapai 15 kejadian. Jika dirata-rata, pada tahun lalu terjadi sekitar satu kasus per bulan, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi dua kasus per bulan.
Kasatreskrim Polresta Balikpapan, AKP Agus Fitriadi, mengatakan bahwa tren ini tidak bisa dianggap sepele. Secara persentase, terjadi kenaikan sekitar 60 persen dibanding rata-rata bulanan tahun sebelumnya.
“Baru empat bulan berjalan sudah hampir 50 persen,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Tak hanya peningkatan jumlah, polisi juga menemukan pola yang cukup mencolok. Mayoritas korban berusia di atas 40 tahun dan diketahui memiliki penyakit kronis yang tak kunjung sembuh. Kondisi tersebut diduga kuat memicu tekanan psikologis hingga berujung pada tindakan nekat.
“Korban diduga mempunyai penyakit yang membuatnya depresi karena tidak kunjung sembuh,” jelasnya.
Para korban berasal dari latar belakang yang beragam. Sebagian telah berkeluarga, sementara lainnya hidup sendiri. Ada warga asli Balikpapan, ada pula pendatang yang mencoba mencari penghidupan di kota ini. Namun, keberagaman tersebut justru memperlihatkan bahwa keputusasaan tidak mengenal batas usia, status sosial, maupun asal daerah.
Polisi menekankan pentingnya peran keluarga sebagai garis pertahanan pertama dalam mencegah kasus serupa. Agus mengimbau agar keluarga yang merawat anggota dengan penyakit menahun tidak menyerah pada kelelahan, karena dukungan emosional menjadi kebutuhan utama selain pengobatan.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan mental di lingkungan sekitar, seperti perubahan perilaku, menarik diri, hingga ungkapan keputusasaan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak akan hilang dengan sendirinya tanpa intervensi.
“Rawat dengan baik, perhatikan kondisi mereka, dan kalau butuh bantuan, koordinasikan dengan dinas sosial,” tambahnya.
Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian terjadi pada awal April 2026. Seorang pria berinisial YS (30), asal Sikka, ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon nangka di kawasan Jalan Pupuk Barat VIII, Balikpapan Selatan.
Korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 11.00 Wita oleh seorang perempuan berinisial MY (28), yang memiliki hubungan dengannya. Sebelumnya, korban sempat berpamitan keluar rumah pada malam hari dengan alasan mencari udara segar.
Hasil pemeriksaan forensik di RS Hermina Balikpapan menunjukkan adanya tanda gantung dan patah tulang leher tanpa ditemukan indikasi kekerasan lain. Polisi menduga kuat korban mengakhiri hidupnya sendiri.
Kasus-kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dan beban penyakit kronis memerlukan perhatian serius dari semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun pemerintah.
Penulis: Aprianto





