BALIKPAPAN — Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUKMP) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Balikpapan menggelar pelatihan kerajinan manik-manik bagi wirausaha pada 27–29 April 2026, di Aula Hotel Zurich, Balikpapan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah kota dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Ketua Dekranasda Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, menyampaikan kebanggaannya terhadap capaian pelaku usaha lokal, termasuk keberhasilan kegiatan sebelumnya seperti lomba motif batik khas Balikpapan tahun 2025.
“Saya bangga dan berterima kasih kepada teman-teman yang sudah berprestasi. Harapan kita di tahun 2026 kegiatan seperti ini terus ada, meskipun kita menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang berdampak luas,” ujar Nurlena dalam sambutannya saat membuka kegiatan pelatihan, Senin (27/4/2026).
Ia menyoroti kondisi sektor pariwisata dan ekonomi lokal yang ikut terdampak, seperti menurunnya kunjungan ke hotel hingga lesunya penjualan oleh-oleh. Menurutnya, salah satu solusi adalah mendorong lebih banyak wisatawan datang ke Balikpapan.
“Kita harus punya tujuan bersama, bagaimana mengajak orang luar datang ke Balikpapan. Kita promosikan IKN, tapi pusat belanja dan oleh-oleh tetap di Balikpapan,” jelasnya.
Nurlena juga menekankan pentingnya inovasi produk agar mampu menjangkau pasar generasi muda. Menurutnya, pelaku usaha harus adaptif terhadap tren, baik dari sisi desain maupun warna.
“Manik-manik ini bisa dibuat di mana saja, tapi kita harus angkat sebagai identitas khas Balikpapan. Kuncinya mengikuti tren, terutama selera generasi muda yang lebih cepat berkembang dan aktif mempromosikan,” tambahnya.
Selain itu, ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak terlena dalam “zona nyaman” dan terus meningkatkan keterampilan melalui pelatihan.
“Kalau kita merasa sudah aman, kita tidak akan berkembang. Justru dengan pelatihan seperti ini, kita dorong untuk terus berinovasi dan berusaha lebih baik,” tegasnya.
Sebelumnya dalam laporan kegiatan, Kepala DKUKMP Kota Balikpapan, Heruressandy Setya Kesuma menjelaskan, pelatihan tahun ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya dengan fokus pada peningkatan teknik yang lebih mendalam.
“Kalau tahun lalu masih dasar, sekarang lebih teknis dan detail. Harapannya peserta benar-benar mendapatkan pengetahuan baru dan mampu meningkatkan kualitas produknya,” ujar Heruressandy.
Ia menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan produk aksesoris, tetapi juga membangun identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Kerajinan manik-manik ini bukan sekadar produk, tetapi juga bagian dari identitas daerah yang harus kita kembangkan agar memiliki nilai tambah dan daya saing,” jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Zurich Balikpapan ini diikuti oleh 32 peserta pelaku usaha. Mereka mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari materi pelatihan, bahan praktik, hingga pendampingan dari narasumber berpengalaman.
Heruressandy berharap, melalui program ini, pelaku UMKM dapat meningkatkan kompetensi, menghasilkan produk yang lebih terstandar, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
“Tujuan akhirnya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian budaya lokal Balikpapan,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu dibagi pula Sertifikat HAKI dan alat canting kepada pemenang lomba motif batik khas Kota Balikpapan Tahun 2025.
Masing-masing, Sutiyani dengan desain Kharisma Sekar Meranti sebagai Juara I, Yusuf dengan Embun Minyak sebagai Juara II, dan Fransiskus Priyo Tarsongko dengan Seraung Bekesah Juara III.
Kemudian, Wastiti Arum Handini dengan Buah Rotan juara harapan I, Mujiati dengan Pepaya Halus Juara Harapan II dan Iin Endah Priyanti dengan Lelana Rotan Dayak sabagi juara harapan III.
Penulis: Aprianto





