PASER – Ancaman fenomena El Nino ekstrem yang diprediksi terjadi pada musim kemarau 2026 mulai menjadi perhatian serius di Kalimantan Timur. Indikasi meningkatnya suhu udara dan menurunnya curah hujan di sejumlah wilayah memperkuat potensi kekeringan panjang yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala UPTD KPHP Telake, Shahar Al Haqq, menyebut fenomena yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino” diperkirakan berlangsung selama sekitar tujuh bulan, mulai April hingga Oktober 2026.
“Tahun 2026 ini, kita menghadapi El Nino yang cukup panjang, dari bulan April sampai dengan Oktober,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, siklus kemarau yang lebih panjang akan meningkatkan risiko kebakaran secara signifikan, sekaligus berpotensi mengganggu ketahanan pangan masyarakat akibat berkurangnya ketersediaan air dan menurunnya produktivitas lahan.
Meski demikian, beberapa wilayah di Kabupaten Paser yang memiliki tutupan hutan lebat, seperti di Kecamatan Muara Komam meliputi Desa Prayon, Muara Payang, dan Long Sayo, dinilai relatif lebih tahan terhadap dampak perubahan cuaca ekstrem.
“Karena hutannya cukup bagus, wilayah-wilayah ini tidak mengenal musim. Walaupun sekarang dianggap kemarau, di sana masih terjadi hujan,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan potensi karhutla tetap ada, sehingga langkah antisipasi harus terus dilakukan. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.
Menurutnya, peran masyarakat sangat penting sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan karhutla di lapangan.
“Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mengendalikan risiko karhutla di tingkat tapak,” pungkasnya. (MK)
Pewarta: Nash
Editor: Agus S





