El Nino Ekstrem Mulai Terasa, Suhu Meningkat Curah Hujan Turun

PASER – Ancaman fenomena El Nino ekstrem yang diprediksi terjadi pada musim kemarau 2026 mulai menjadi perhatian serius di Kalimantan Timur. Indikasi meningkatnya suhu udara dan menurunnya curah hujan di sejumlah wilayah memperkuat potensi kekeringan panjang yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala UPTD KPHP Telake, Shahar Al Haqq, menyebut fenomena yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino” diperkirakan berlangsung selama sekitar tujuh bulan, mulai April hingga Oktober 2026.

“Tahun 2026 ini, kita menghadapi El Nino yang cukup panjang, dari bulan April sampai dengan Oktober,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Ia menjelaskan, siklus kemarau yang lebih panjang akan meningkatkan risiko kebakaran secara signifikan, sekaligus berpotensi mengganggu ketahanan pangan masyarakat akibat berkurangnya ketersediaan air dan menurunnya produktivitas lahan.

Meski demikian, beberapa wilayah di Kabupaten Paser yang memiliki tutupan hutan lebat, seperti di Kecamatan Muara Komam meliputi Desa Prayon, Muara Payang, dan Long Sayo, dinilai relatif lebih tahan terhadap dampak perubahan cuaca ekstrem.

Baca Juga:   Foto: Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur yang mencapai 9,82 persen. (Ilustrasi/AI) Koranusantara: Ekonomi Kutim Tumbuh 9,82 Persen, Wabup Ingatkan Ketergantungan Tambang RadarBontang: Pertumbuhan Ekonomi Kutim Capai 9,82 Persen, Tambang Masih Dominan RadarSamarinda: Wabup Kutim Soroti Risiko Ketergantungan Tambang Meski Ekonomi Tumbuh RadarIbukota: Pertumbuhan Ekonomi Kutim Tinggi, Diversifikasi Jadi Tantangan RadarPaser: Ekonomi Kutim Melaju, Pemkab Diminta Kurangi Ketergantungan Tambang RadarKubarMahulu: Wabup Kutim Ingatkan Pentingnya Penguatan Sektor Non-Tambang MediaKaltimTara: Ekonomi Kutim Tumbuh Signifikan, Namun Struktur Masih Rentan RadarKukar: Mahyunadi Soroti Tantangan Diversifikasi Ekonomi Kutim RadarKutim: Ekonomi Kutim Tumbuh 9,82 Persen, Kemiskinan Terus Menurun RadarBerau: Pertumbuhan Ekonomi Kutim Tinggi, Pengangguran Masih Jadi PR RadarBalikpapan: Wabup Kutim Minta RKPD Fokus pada Program Prioritas SANGATTA — Perekonomian Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi daerah tercatat mencapai 9,82 persen. Angka tersebut terutama didorong oleh sektor pertambangan, industri pengolahan, serta pertanian dan perkebunan. Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, mengatakan capaian tersebut patut disyukuri. Namun ia mengingatkan bahwa struktur ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor tambang dan pertanian. “Tahun 2024 pertumbuhan kita 9,82 persen. Mudah-mudahan kalau pun turun tahun ini, tidak terlalu jauh,” ujarnya. Menurut Mahyunadi, ketergantungan pada sektor tertentu berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi di masa depan. Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong pengembangan sektor lain agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih merata dan berkelanjutan. “Ketergantungan ini harus mulai dikurangi dengan memperkuat sektor-sektor lain yang punya potensi berkembang,” jelasnya. Di sisi lain, kondisi sosial di Kutim juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Angka kemiskinan tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tingkat kemiskinan berada di angka 9,6 persen, kemudian turun menjadi 8,87 persen pada 2024, dan kembali menurun menjadi 8,07 persen pada 2025. “Capaian ini patut kita syukuri, namun tetap menjadi pemacu semangat untuk terus memperkuat program-program sosial,” katanya. Meski demikian, tingkat pengangguran terbuka masih menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya di kalangan usia produktif. Untuk mengatasinya, Pemkab Kutim dinilai perlu memperkuat program pelatihan keterampilan kerja serta menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha. “Walaupun pengangguran masih ada, kita berharap peningkatan pendapatan keluarga bisa membantu menjaga kesejahteraan masyarakat,” tambahnya. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kutim juga menunjukkan peningkatan. Pada 2025, IPM tercatat mencapai 76,48, naik dari 75,90 pada 2024. Mahyunadi menyebut peningkatan tersebut mencerminkan adanya perbaikan pada sektor pendidikan, kesehatan, serta daya beli masyarakat. Namun pemerataan layanan dasar antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Di sisi lain, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan daerah. Perubahan kebijakan transfer dari pemerintah pusat serta meningkatnya kebutuhan belanja wajib membuat ruang fiskal daerah semakin terbatas. Karena itu, penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2027 harus dilakukan secara lebih selektif dengan menitikberatkan pada program prioritas. “RKPD tahun 2027 harus disusun dengan prinsip belanja yang lebih berkualitas, fokus pada prioritas, serta menghindari kegiatan yang kurang berdampak langsung kepada masyarakat,” tutupnya. Penulis: Ramlah Editor: Agus S

“Karena hutannya cukup bagus, wilayah-wilayah ini tidak mengenal musim. Walaupun sekarang dianggap kemarau, di sana masih terjadi hujan,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan potensi karhutla tetap ada, sehingga langkah antisipasi harus terus dilakukan. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.

Menurutnya, peran masyarakat sangat penting sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan karhutla di lapangan.

“Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mengendalikan risiko karhutla di tingkat tapak,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Nash
Editor: Agus S

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img