BALIKPAPAN – Sosok Panglima Jilah yang juga dikenal sebagai Pangalangok Jilah atau Agustinus Jila kembali menjadi perhatian. Tak hanya sebagai tokoh adat, ia kini akan terlibat langsung dalam produksi film kolosal bertema Dayak, bahkan didapuk sebagai produser eksekutif sekaligus pemeran.
Hal ini terungkap dalam pertemuan bersama para ketua organisasi masyarakat Dayak se-Kalimantan Timur di Balikpapan, Jumat (10/4/2026). Kehadiran Panglima Jilah membawa dua agenda utama, yakni mempererat silaturahmi antar tokoh Dayak serta meninjau pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sekaligus menggalang dukungan untuk proyek film budaya berskala besar tersebut.
Menurut Panglima Jilah, film ini akan mengangkat kekayaan cerita rakyat, sejarah kerajaan, adat, budaya, hingga tradisi Dayak. Ia menegaskan, keterlibatan dirinya secara langsung merupakan bentuk komitmen agar cerita yang ditampilkan benar-benar merepresentasikan identitas Dayak.
“Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi upaya memperkenalkan jati diri Dayak kepada dunia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga identitas di tengah perkembangan zaman, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, kemajuan tidak boleh menghilangkan akar budaya.
Proyek film ini dirancang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas Dayak dari seluruh Kalimantan hingga wilayah lintas negara seperti Sarawak dan Sabah. Namun, proses produksi masih berada pada tahap awal, dengan diskusi terus dilakukan terkait konsep cerita, pendanaan, hingga teknis produksi.
Produser eksekutif, Abriantinus, yang juga Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Balikpapan, menyebut film ini dilatarbelakangi minimnya dokumentasi sejarah Dayak dalam bentuk audiovisual.
“Selama ini sejarah Dayak lebih banyak dalam bentuk lisan. Melalui film ini, kami ingin menghadirkan edukasi sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya.
Saat ini, tahapan produksi telah memasuki proses pendaftaran dan audisi yang berlangsung sejak 1 April hingga 1 Juni 2026.
Ketua Tim Produksi, Thoesang TT Asang, menjelaskan audisi akan digelar di berbagai kota di Kalimantan, seperti Samarinda, Tarakan, Banjarbaru, Palangkaraya, hingga Pontianak.
Film ini tidak hanya menyuguhkan aksi, tetapi juga menghadirkan kisah romantis, unsur mistis seperti legenda mandau terbang, serta sentuhan humor.
Dengan dukungan berbagai pihak, film kolosal Dayak ini diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah arus modernisasi, serta membuka jalan bagi budaya Dayak untuk dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.
Penulis: Aprianto





