TENGGARONG — Warga Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), memilih bertindak di tengah lambannya penanganan jalan rusak berstatus nasional. Melalui gotong royong, mereka melakukan perbaikan secara swadaya di sejumlah titik yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohamad Rijali, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berangkat dari banyaknya laporan masyarakat yang masuk melalui Ketua RT hingga pemerintah desa. Keluhan itu kemudian dibahas dalam rembuk warga, khususnya di RT 12.
“Namanya ada laporan masyarakat, ya kita tanggapi. Dari RT 12 mengusulkan gotong royong, saya bilang silakan, tapi kita harus paham status jalannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa karena status jalan merupakan jalan nasional, warga tidak diperbolehkan melakukan perubahan struktur secara permanen. Karena itu, metode yang dipilih hanya sebatas perbaikan sementara berupa penambalan di permukaan.
“Awalnya ada yang mau mengupas aspal supaya lebih kuat, tapi saya bilang jangan. Kita hanya bisa menambal di atasnya,” jelasnya.
Pendanaan dilakukan secara iuran terbuka yang diumumkan melalui media sosial RT. Selain kontribusi dana, warga juga menyumbangkan material seperti semen serta tenaga kerja secara sukarela.
“Dana yang terkumpul di luar material sekitar Rp3,7 juta. Untuk konsumsi dibantu ibu-ibu PKK,” tambahnya.
Perbaikan dilakukan selama tiga hari dengan memanfaatkan waktu akhir pekan. Hingga kini, pengerjaan di wilayah Saratika telah selesai dilakukan.
Namun, Rijali mengingatkan bahwa persoalan utama bukan hanya lubang di jalan. Struktur badan jalan yang menurun, ditambah buruknya sistem drainase dan gorong-gorong yang tertutup, mempercepat kerusakan.
“Air dari atas tidak punya saluran. Jadi melimpas ke jalan dan merusak aspal,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi, mengingat ruas jalan itu kerap dilintasi kendaraan berat. Warga khawatir jika tidak segera ditangani secara permanen, potensi kecelakaan akan terus terjadi.
Meski telah melakukan langkah swadaya, pemerintah desa tetap berharap ada penanganan serius dari instansi terkait. Rijali mengaku telah melaporkan sejumlah titik kerusakan, termasuk gorong-gorong yang ambles di depan kantor desa.
“Alhamdulillah sudah ada respons dari balai. Artinya laporan kita sampai,” ujarnya.
Ia pun mengimbau warga di wilayah lain, khususnya yang berada di jalur provinsi dan nasional, untuk tidak hanya menunggu penanganan pemerintah, tetapi mulai mengambil langkah yang bisa dilakukan secara bersama.
“Kalau hanya menunggu, lubang di pinggir jalan itu bisa membahayakan. Paling tidak kita mulai dari yang bisa kita lakukan,” tegasnya. (MK)
Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S





