Sejak 28 Februari 2026, saya hampir setiap hari mengikuti perkembangan konflik Iran. Laporan saya baca dari berbagai media internasional yakni, Reuters, AP News, Al-Jazeera, Bloomberg, sambil membandingkannya dengan potongan video dan narasi yang beredar di TikTok, Instagram, serta berbagai grup percakapan.
Masalahnya, tidak semuanya benar.
Setiap hari muncul video rudal jatuh, ledakan besar, atau klaim kemenangan dari masing-masing pihak. Sebagian ternyata rekaman lama dari konflik lain. Sebagian lagi manipulasi digital. Bahkan ada yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Dalam situasi seperti ini, membaca perang tidak bisa hanya mengandalkan potongan video di media sosial. Justru laporan media yang telah diverifikasi menjadi sangat penting.
Dari berbagai sumber itu, satu gambaran mulai terlihat. Konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan lagi sekadar isu nuklir. Konflik telah berkembang menjadi persoalan geopolitik besar yang menyentuh energi dunia, jalur perdagangan global, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
SERANGAN 28 FEBRUARI
Puncak konflik ini dipicu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut tidak hanya menargetkan fasilitas militer dan instalasi strategis, tetapi juga lingkaran kepemimpinan Iran.
Dalam serangan itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas. Kematian tokoh yang memimpin Iran sejak 1989 tersebut langsung mengguncang struktur politik negara itu.
Banyak analis menilai peristiwa ini sebagai salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyampaikan pernyataan keras yang dikutip berbagai media internasional.
“Khamenei, one of the most evil people in history, is dead,” ucap Donald Trump, dikutip Reuters.
Trump menyebut Khamenei sebagai salah satu tokoh paling jahat dalam sejarah dan kini telah mati.
Trump juga menegaskan operasi militer Amerika tidak akan berhenti.
“Combat operations continue at full force and will continue until our objectives are achieved,” tegas Donald Trump, dikutip Reuters.
Trump menyebut operasi tempur Amerika akan terus dilakukan dengan kekuatan penuh sampai tujuan strategis mereka tercapai.
IRAN MARAH, ANAK KHAMENEI MENGGANTIKAN

Kematian Khamenei langsung memicu kemarahan besar di Iran. Televisi pemerintah Iran menyiarkan suasana berkabung nasional. Ribuan warga turun ke jalan di Teheran dan sejumlah kota lain.
Dalam waktu yang relatif cepat, para ulama senior Iran menunjuk Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas negara di tengah perang yang sedang berlangsung.
Namun penunjukan tersebut juga memicu perdebatan karena Iran selama ini tidak menganut sistem kepemimpinan dinasti.
Yang menarik, pemimpin baru Iran ini sendiri dilaporkan mengalami luka akibat serangan yang menewaskan ayahnya.
Presiden Trump bahkan menyindir kondisi tersebut.
“Still alive but damaged,” kata Donald Trump.
Trump menyebut Mojtaba kemungkinan masih hidup, tetapi dalam kondisi terluka.
Dari sudut pandang Teheran, serangan tersebut dipandang sebagai agresi langsung terhadap kedaulatan negara mereka.
Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan yang dikutip Al-Jazeera menyebut serangan Amerika dan Israel sebagai tindakan perang.
“Any further aggression will receive a decisive response,” sebut Kementerian Luar Negeri Iran.
Artinya, setiap agresi lanjutan akan mendapat balasan tegas dari Iran.
SELAT HORMUZ JANTUNG ENERGI DUNIA

Konflik ini tidak hanya soal militer. Konflik juga menyentuh jantung energi dunia.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Meski kecil secara geografis, jalur ini sangat vital. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari.
Reuters menulis:
“Around one-fifth of the world’s oil consumption passes through the Strait of Hormuz.”
Artinya hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur tersebut.
Ketika konflik meningkat, Iran langsung mengancam menutup jalur itu. Beberapa laporan menyebut kapal tanker menjadi target serangan drone dan rudal.
Banyak kapal memilih menunggu di luar kawasan Teluk karena risiko keamanan yang tinggi. Gangguan ini langsung memicu kepanikan di pasar energi dunia.
HARGA MINYAK DUNIA HARI INI

Dampak konflik ini langsung terasa di pasar energi global. Jika melihat angka terbaru pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi.
Minyak jenis Brent crude ditutup di sekitar US$103 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$98 per barel. Pada awal eskalasi konflik, harga Brent bahkan sempat melonjak hingga mendekati US$119 per barel, level tertinggi sejak 2022.
Padahal dalam kondisi pasar yang relatif stabil, harga minyak dunia biasanya bergerak di kisaran US$70 hingga US$85 per barel. Level tersebut sering dianggap sebagai kisaran harga normal oleh banyak analis energi karena masih seimbang bagi produsen maupun konsumen.
Artinya, harga minyak saat ini sudah berada jauh di atas kisaran normal pasar.
Reuters menulis bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap konflik yang melibatkan Iran.
“Oil markets are extremely sensitive to tensions involving Iran because of its strategic position in global supply routes.”
Artinya pasar minyak sangat sensitif terhadap ketegangan yang melibatkan Iran karena posisi negara tersebut berada di jalur distribusi energi dunia.
Ketika kapal tanker tidak berani melewati Selat Hormuz, suplai energi global langsung terganggu. Itulah sebabnya setiap konflik besar di Timur Tengah hampir selalu diikuti lonjakan harga energi dunia.
DUNIA ENERGI MENAHAN NAFAS
Jika dilihat dari sudut pandang pasar energi global, konflik Iran sebenarnya jauh lebih besar dari sekadar perang regional.
International Energy Agency (IEA) menyebut Iran sebagai salah satu produsen energi penting dunia dengan produksi sekitar 3 hingga 4 juta barel minyak per hari.
Karena itu setiap konflik yang melibatkan Iran hampir selalu langsung memengaruhi pasar energi global.
Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan pasar energi sangat khawatir konflik ini mengganggu pasokan minyak dunia.
“The market is worried about supply disruptions from the Middle East,” sebut Andrew Lipow.
Sementara dari sisi Israel, operasi militer terhadap Iran dipandang sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang lebih besar. Pemerintah Israel menyebut Iran sebagai ancaman langsung terhadap keamanan negaranya.
Sementara analis militer Barat melihat konflik ini sebagai bagian dari persaingan kekuatan di Timur Tengah.
Michael Knights dari Washington Institute mengatakan konflik dengan Iran hampir selalu berpotensi meluas.
“Any confrontation with Iran risks drawing in multiple actors across the region,” sebut Michael Knights.
SIKAP PBB DAN KEKHAWATIRAN DUNIA
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan agar semua pihak menahan diri.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa dunia tidak mampu menghadapi perang besar baru di Timur Tengah.
“The region cannot afford another devastating conflict,” kata António Guterres.
Artinya kawasan ini tidak mampu menanggung konflik besar baru yang menghancurkan.
NUKLIR ATAU PEREBUTAN MINYAK?
Selama bertahun-tahun konflik Iran sering dijelaskan dengan satu alasan: program nuklir. Amerika dan sekutunya berulang kali menyatakan operasi militer terhadap Iran bertujuan mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir.
Namun di tengah konflik ini muncul pandangan lain.
Dalam salah satu ceramahnya yang beredar luas di media sosial, Ustaz Abdul Somad menyebut konflik Timur Tengah sering kali berkaitan dengan perebutan sumber energi.
UAS mencontohkan Venezuela. Negara tersebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun minyak Venezuela sangat kental atau heavy crude sehingga sulit diolah menjadi bahan bakar.
Sebaliknya minyak dari kawasan Timur Tengah, termasuk Iran lebih ringan sehingga lebih mudah diproses di kilang. Karena itu kawasan tersebut sejak lama menjadi pusat perebutan kepentingan global.
PERDEBATAN DI INDONESIA
Yang menarik, perang ini juga memicu perdebatan luas di Indonesia. Media sosial dipenuhi komentar publik yang saling berseberangan.
Sebagian mendukung Iran. Sebagian membela Israel. Sebagian lagi melihat konflik ini sebagai pertarungan geopolitik antara Amerika dan blok Timur.
Sejumlah influencer dan tokoh publik ikut menyampaikan pandangan.
Ada yang membuat konten dukungan, ada yang mencoba menganalisis geopolitik konflik, ada pula yang menyebarkan teori konspirasi.
Konten-konten tersebut kemudian memicu perdebatan panjang di kolom komentar. Tidak jarang diskusi berubah menjadi saling serang.
Padahal sebagian besar yang berdebat sebenarnya hanya membaca informasi dari sumber yang sama, yakni potongan video di media sosial.
Perang modern memang jarang berdiri sendiri. Di belakangnya selalu ada lapisan kepentingan lain: militer, energi, perdagangan, bahkan narasi politik global.
Sebagian orang melihat konflik ini sebagai perang nuklir. Sebagian melihatnya sebagai perebutan pengaruh di Timur Tengah. Sebagian lagi melihatnya sebagai pertarungan atas jalur energi dunia.
Mungkin semuanya benar.
Karena dalam banyak perang besar, yang terlihat di permukaan sering kali hanya satu bagian kecil dari cerita yang sebenarnya jauh lebih besar. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.





