NUSANTARA – Dokumentasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dilakukan secara mandiri oleh Dian Rana berpotensi menjadi bagian dari arsip nasional. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) merespons kiriman dokumentasi IKN tahun 2026 yang diajukan warga Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku tersebut.
Perancang kota IKN, Sibarani Sofyan, menyebut dokumentasi yang dilakukan Dian menjadi salah satu referensi independen dalam memantau perkembangan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur.

“Sejak awal perancangan Ibu Kota Nusantara, kami selalu memantau perkembangan pembangunannya. Dokumentasi Dian Rana melalui vlog dan kanal YouTube menjadi salah satu sumber independen yang kami gunakan, bahkan untuk menunjukkan progres IKN kepada berbagai pihak,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, dokumentasi dari sudut pandang independen memiliki nilai penting karena mampu melengkapi informasi resmi dengan kondisi nyata di lapangan. Bahkan, karya tersebut juga telah dibukukan dalam sebuah karya berjudul Di Balik Layar Nusantara.
“Saya menyambut baik hadirnya buku tersebut sebagai catatan sejarah dari perspektif independen yang informatif dan bermanfaat bagi publik,” tambahnya.
Sementara itu, Dian Rana mengaku tidak menyangka dokumentasi yang ia lakukan secara sederhana dapat mendapat perhatian hingga berpotensi menjadi arsip nasional.
Ia mengungkapkan, sejak 2025 sempat mencari informasi terkait peluang dokumentasinya masuk ke ANRI, namun saat itu belum berani mengajukan karena khawatir ditolak.
“Nah tahun 2026 ini saya coba kirim, dan ternyata diproses,” ujarnya.
Dian menceritakan, awal ketertarikannya mendokumentasikan IKN bermula dari rasa penasaran setelah penetapan kawasan tersebut sebagai ibu kota negara oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo.
“Saya datang, melihat, dan merekam. Lama-lama saya merasa ini bukan sekadar dokumentasi biasa, tapi bagian dari perubahan besar yang perlu dicatat,” katanya.
Sejak itu, ia secara konsisten merekam perkembangan kawasan IKN, bahkan sejak titik nol masih berupa patok geodesi. Dokumentasi tersebut disajikan melalui vlog dengan pendekatan sederhana dari sudut pandang masyarakat.
Meski menghadapi keterbatasan akses dan dinamika di lapangan, Dian tetap melanjutkan proses dokumentasi secara berkelanjutan.
Ke depan, ia berharap dokumentasi tersebut tidak hanya menjadi arsip pribadi, tetapi juga bagian dari catatan kolektif perjalanan pembangunan IKN.
“Harapannya, ini bisa menjadi bagian dari sejarah yang bisa dilihat banyak orang,” pungkasnya. (MK)
Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S





