spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Di Tengah Perubahan Kota, Masjid Tertua Tetap Terjaga

SAMARINDA – Sore menjelang magrib di kawasan Samarinda Seberang terasa berbeda. Asap tipis mengepul dari dapur sederhana di depan Masjid Shiratal Mustaqiem. Aroma bubur peca memenuhi udara, bercampur suara sendok beradu dan percakapan warga yang bersiap menyambut waktu berbuka.

Di tengah kesibukan itu, Pak Sufyan melangkah tenang dari rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari masjid. Selama sekitar 23 tahun, sejak 2003, ia menjadi salah satu penjaga Masjid Shiratal Mustaqiem—masjid tertua di Samarinda yang telah berdiri lebih dari 145 tahun.

“Sudah sekitar 23 tahun saya di sini,” ujarnya pelan.

Sebagai marbot sekaligus Juru Pelihara (Jupel) PPPK Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kalimantan Timur, tugasnya bukan sekadar membersihkan dan merawat. Masjid ini berstatus cagar budaya, sehingga bentuk aslinya tak boleh diubah.

“Kalau rusak boleh diperbaiki, tapi tidak boleh mengubah bentuk aslinya,” katanya, menunjuk bagian atap yang pernah bocor diterpa hujan dan angin kencang.

Dinding kayu ulin yang menghitam dimakan usia tetap dipertahankan. Jika ada bagian rusak, penggantian harus menggunakan material serupa dan melalui prosedur pelestarian. Seolah waktu dibiarkan berjalan, tetapi tanpa menghapus jejak sejarahnya.

Baca Juga:   Wali Kota Balikpapan Ajak ASN Kekantor Gunakan BCT

Pak Sufyan bukan warga asli Samarinda. Ia perantau dari Kalimantan Selatan yang datang ke lingkungan mayoritas Bugis. Adaptasi awal tak mudah—bahasa dan kebiasaan berbeda. Namun masjid menjadi ruang pertemuan yang melampaui sekat identitas.

“Kita kerja dengan keikhlasan saja. Alhamdulillah masyarakat menerima,” tuturnya.

Di masa awal pengabdian, ia juga sering membantu memandikan jenazah warga sekitar. Dari gang ke gang, panggilan datang tanpa jeda. Kini, masyarakat sudah banyak yang mampu melakukannya sendiri.

“Dulu hampir semua kami yang urus,” kenangnya.

Bagi Pak Sufyan, perubahan itu bukan kehilangan peran, melainkan tanda masyarakat semakin kuat dalam pemahaman keagamaan.

Ramadan menjadi momen paling terasa. Tradisi bubur peca, pengajian rutin, dan belajar Al-Qur’an bagi anak-anak tetap berlangsung. Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi ruang sosial yang menjaga kebersamaan.

Masjid tua itu sehari-hari dirawat dua orang petugas. Perbedaan latar belakang tak menjadi penghalang.

“Yang penting saling mengerti,” ujarnya ringan.

Saat langit berubah jingga, jamaah berdatangan membawa takjil. Anak-anak berlarian di halaman. Ketika ditanya apa yang ia rasakan selama lebih dari dua dekade menjaga masjid ini, jawabannya sederhana.

Baca Juga:   Wali Kota Balikpapan Bersama EGM Pertamina Patra Niaga Tinjau Sejumlah SPBU Untuk Pastikan Tidak Ada Antrean Lagi

“Keberkahan. Ketenangan hati itu yang paling besar,” katanya. (MK)

Editor: Agus S

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img