SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mempercepat pemerataan akses energi di wilayah pedesaan, khususnya di Kabupaten Kutai Timur. Melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, program elektrifikasi desa dilakukan secara bertahap dengan target yang terukur.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menegaskan percepatan ini merupakan wujud komitmen pemerintah menghadirkan listrik hingga wilayah terpencil.
“Dari sebelumnya terdapat 110 desa yang belum berlistrik di Kalimantan Timur, kini jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi 73 desa. Ini adalah bukti nyata komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam memperluas akses energi bagi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali,” ujarnya.
Di Kutai Timur, perluasan jaringan listrik PLN menjangkau delapan desa, yakni Desa Cipta Graha (Kecamatan Kaubun), Desa Bukit Makmur, Desa Selangkau, Desa Kaliorang, Desa Citra Manunggal Jaya (Kecamatan Kaliorang), Desa Sepaso Barat (Kecamatan Bengalon), serta Desa Karangan Dalam dan Desa Karangan Ilir (Kecamatan Karangan). Total jaringan yang dibangun mencapai 38,356 kilometer.
Selain perluasan jaringan PLN, Pemprov Kaltim juga menyalurkan bantuan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) di 10 desa dengan total 404 unit. Desa penerima meliputi Diaq Lay (35 unit), Miau Baru (50 unit), Benhes (31 unit), Karya Bhakti (24 unit), Long Wehea (21 unit), Pengadan Baru (23 unit), Nehas Liah Bing (32 unit), Dabeq (30 unit), Lon Pok (78 unit), dan Mekar Baru (80 unit).
Tak hanya itu, bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) APDAL turut disalurkan di dua desa, yakni Desa Tanjung Mangkalihat, Kecamatan Sandaran sebanyak 100 unit, serta Desa Long Poq Baru, Kecamatan Muara Ancalong sebanyak 125 unit.
Menurut Bambang, pembangunan infrastruktur kelistrikan tersebut berjalan selaras dengan penguatan konektivitas wilayah, termasuk peresmian Jembatan Nibung yang sebelumnya dilakukan Gubernur Kaltim sebagai akses vital distribusi dan mobilitas warga.
Ia menegaskan, kehadiran jaringan listrik, PJUTS, serta PLTS diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa, meningkatkan keamanan lingkungan, serta menunjang layanan pendidikan dan kesehatan masyarakat.
“Elektrifikasi bukan hanya soal penerangan, tetapi tentang membuka akses ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan. Kami ingin memastikan masyarakat di wilayah terpencil Kutai Timur merasakan manfaat pembangunan yang sama,” tegasnya. (MK)
Editor: Agus S





