Salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang Angkatan XIV adalah sesi orasi ilmiah. Bukan semata karena siapa yang tampil, tetapi karena isi yang dibawa terasa tepat dengan posisi STITEK saat ini. Sebuah kampus teknologi yang sedang bersiap melangkah ke fase berikutnya sebagai universitas.
Forum wisuda ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Pemkot Bontang diwakili Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto. Hadir pula Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Dr. Muhammad Akbar, jajaran pembina dan pengurus Yayasan Pendidikan Besai Berinta yang menaungi STITEK Bontang, pimpinan perguruan tinggi di Kota Bontang, perwakilan industri, termasuk dari PT Badak NGL, serta senat akademik, pimpinan kampus, dosen, dan tentu para wisudawan beserta keluarga.
Orasi ilmiah disampaikan Dr. Rino R. Mukti, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Rino Mukti merupakan alumnus ITB yang melanjutkan studi magister di Malaysia dan pendidikan doktoral di Jerman. Ia sempat menjalani program postdoktoral di Jepang sebelum kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti di ITB.
Dalam kesehariannya, Rino membimbing mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral. Fokus risetnya berada pada material berpori, bidang yang banyak dimanfaatkan dalam industri energi, pupuk, hingga lingkungan.

Di hadapan forum wisuda, Rino membuka orasinya dengan satu gagasan: tidak ada negara maju tanpa teknologi, dan teknologi tidak lahir tanpa riset yang dikerjakan secara konsisten. Gagasan itu ia jabarkan dengan berbagai contoh. Dari sejarah hingga riset mutakhir, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Ia menjelaskan bahwa banyak teknologi besar justru lahir dari riset yang pada awalnya tidak terlihat praktis. Salah satunya material berpori seperti zeolit, bidang yang ia tekuni. Ia menggambarkan material ini sebagai bahan dengan rongga sangat halus dan luas permukaan yang besar, sehingga mampu menyerap, mempercepat reaksi, dan berfungsi sebagai katalis di berbagai sektor industri.
Dari situ, Rino mengaitkan riset dengan kebutuhan nyata. Ia menyinggung pengembangan material yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk pertanian, hingga riset yang memungkinkan air diekstraksi dari udara, solusi yang relevan bagi wilayah dengan keterbatasan sumber air. Semua disampaikan lebih sebagai gambaran arah teknologi ke depan.
Pada bagian lain orasinya, Rino mengangkat contoh konkret dari Jerman. Ia bercerita tentang sebuah kawasan tempat pembuangan sampah yang diubah menjadi pusat riset, edukasi, sekaligus destinasi wisata. Gunung sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, diolah dengan pendekatan teknologi dan riset hingga mampu menghasilkan energi, ruang belajar, dan area rekreasi.

Transformasi itu, menurutnya, tidak terjadi secara instan. Kuncinya, keberanian menjadikan masalah sebagai objek riset, lalu melibatkan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem. Dari tempat yang dulu dihindari, kawasan tersebut justru berubah menjadi ruang publik yang bernilai ekonomi dan edukatif.
Contoh itu ia sampaikan untuk menegaskan bahwa teknologi bukan konsep jauh dari kehidupan sehari-hari. Dengan riset yang tepat, persoalan lingkungan, energi, hingga tata kota dapat diubah menjadi peluang.
Rino juga mengajak forum wisuda menengok sejarah sains. Ia mengulas bagaimana lonjakan besar peradaban manusia, termasuk pertumbuhan penduduk dunia, tidak lepas dari penemuan teknologi seperti sintesis amonia yang menjadi dasar pupuk modern. Teknologi, menurutnya, bukan sekadar alat, tetapi penentu arah hidup manusia.
Ia turut berbagi pengalaman saat berdiskusi dengan almarhum Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Rino menyebut Habibie bukan hanya memahami teknologi secara umum, tetapi mengikuti perkembangan sains hingga ke detail, termasuk katalis dan material berpori. Sosok Habibie, baginya, menunjukkan bahwa pemimpin yang memahami sains akan melihat teknologi sebagai kebutuhan strategis, bukan pelengkap.

Dalam konteks perubahan STITEK menuju universitas, Rino berpesan bahwa perubahan bentuk kelembagaan tidak boleh berhenti pada urusan administrasi dan nama. Jika ingin naik kelas menjadi universitas, maka budaya riset juga harus naik kelas.
Kampus teknologi, menurutnya, harus berani hidup dari riset. Dosen aktif meneliti, mahasiswa dilibatkan, dan kampus hadir menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya, terutama di daerah industri seperti Bontang.
Di kota industri seperti Bontang, tantangan kampus teknologi bukan sekadar meluluskan sarjana, tetapi membuktikan bahwa riset bisa tumbuh, hidup, dan menjawab persoalan nyata di sekitarnya.
Di akhir orasi, Rino menyinggung bahwa Indonesia sejatinya memiliki jejak panjang dalam dunia sains. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan pada konsistensi dan keberanian membangun ekosistem riset yang berkelanjutan, dimulai dari kampus, dosen, dan mahasiswa.
Dari orasi ilmiah ini, arah STITEK ke depan mulai terbaca. Bukan sekadar soal berganti nama, tetapi soal pilihan. Apakah berhenti sebagai sekolah tinggi yang diperluas, atau benar-benar tumbuh sebagai universitas yang hidup dari teknologi, riset, dan kebermanfaatan nyata. (Bersambung)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




