BALIKPAPAN – Bagi sebagian orang, usia 30 tahun menjadi penanda kedewasaan. Namun bagi Edi Mangun, fase itu justru menjadi titik balik kesadaran hidup. Ia menyadari satu hal mendasar, yakni manusia tak pernah benar-benar hidup sendiri. Ada tumbuhan, laut, dan seluruh ekosistem yang saling menopang kehidupan.
“Kita hidup karena oksigen. Dan oksigen itu diberikan oleh tumbuhan,” ujar Edi Mangun.
Kesadaran itu tak berhenti sebagai renungan. Sejak usia 30 tahun, Edi mengubah pertambahan usia menjadi ritual tahunan, yakni menanam pohon sebanyak usia yang ia jalani. Sebuah kebiasaan yang terus ia rawat hingga kini, menjelma jejak panjang kepedulian terhadap lingkungan.
Langkah-langkah kecil itu membawanya menanam di berbagai penjuru negeri. Dari Kasim dan Jayapura, menyusuri Kaimana di Papua, berlanjut ke Surabaya, hingga kini Balikpapan.

“Lokasi saya menanam, di mana saya bertugas,” jelasnya.
Sebagai pekerja di salah satu BUMN, Edi menjadikan setiap daerah persinggahan sebagai ruang untuk memberi kembali.
Pilihan Edi pada mangrove bukan tanpa alasan. Keprihatinan melihat rusaknya kawasan pesisir membuatnya menjatuhkan hati pada ekosistem yang kerap terpinggirkan itu.
Padahal, mangrove memiliki peran vital, yakni menahan abrasi, menjadi rumah biota pesisir, sekaligus benteng alami keseimbangan lingkungan di negara kepulauan seperti Indonesia.
“Kalau mangrove rusak, pantai kita ikut rusak,” tambahnya.
Bagi Edi, kota tempat ia tinggal bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga sumber daya yang ia nikmati setiap hari, adalah udara, pesisir, dan lingkungan. Karena itulah, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi.
“Saya mengambil jatah oksigen di sini. Maka saya juga harus memberi kembali,” tegasnya.
Di ulang tahunnya yang ke-55, Edi Mangun kembali turun ke pesisir. Kali ini, sebanyak 550 bibit mangrove ia tanam di kawasan RT 08 Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat.
Angka itu bukan sekadar simbol usia, melainkan penegasan konsistensi yang telah ia jaga selama lebih dari tiga dekade.
Saat banyak orang merayakan pertambahan usia dengan pesta dan perayaan, Edi memilih menanam. Saat alam berada di bawah tekanan, ia memilih peduli. Dan sejak usia 30 tahun, ia terus membuktikan bahwa kepedulian, jika dirawat akan tumbuh seteguh akar mangrove, mencengkeram tanah, menahan abrasi, dan memberi kehidupan bagi sekitarnya.
Penulis: Aprianto




