spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jalur Pesisir Muara Badak, Alternatif Bontang–Samarinda yang Lebih Waras

Saya biasanya menghindari jalur pesisir Muara Badak. Terlalu banyak cerita tentang jalan rusak dan perjalanan yang melelahkan.

Namun kali ini justru jalur inilah yang saya sarankan, termasuk kepada rombongan karyawan Media Kaltim Network yang beberapa waktu lalu menghadiri kegiatan Family Gathering di Bontang.

Saran itu saya sampaikan setelah lebih dulu menerima informasi dari sejumlah orang yang rutin melintas. Mereka menyebut kondisi jalur pesisir Muara Badak sudah jauh membaik.

Awalnya saya ragu. Pengalaman lama masih membekas. Jalan sempit, rusak di banyak titik, dan membuat perjalanan terasa lebih panjang dari jarak sebenarnya. Tapi rasa penasaran akhirnya mendorong saya memastikan sendiri, pada Selasa (20/1) lalu.

Saya melintas langsung. Dan ternyata benar. Jalur yang dulu saya hindari kini terasa jauh lebih layak.

Saya masih ingat betul, kerusakan jalan di jalur ini dulu cukup parah, terutama di sejumlah titik pesisir. Aspal terkelupas, badan jalan bergelombang, dan saat musim hujan kerap menyulitkan kendaraan. Bahkan di akhir 2025, ketika terakhir saya melewatinya, perbaikan masih berjalan. Alat berat berjajar di bahu jalan, dan kenyamanan belum sepenuhnya terasa.

Peningkatan jalan dengan konstruksi rigid beton di jalur pesisir Muara Badak, mempermudah mobilitas warga dan kendaraan roda dua. Foto: Agus S

Kini kondisinya berubah cukup signifikan.

Perbaikan besar dilakukan pada 2025 oleh Pemprov Kaltim, seiring perubahan status ruas jalan dari jalan kabupaten menjadi jalan provinsi. Perbaikan tidak hanya menyasar wilayah Kutai Kartanegara, tetapi juga titik-titik perbatasan Bontang–Kukar. Mulai dari gerbang Perumahan Korpri hingga jembatan conveyor PT Indominco Mandiri, kawasan yang dulu dikenal sebagai bagian paling menyiksa kini jauh lebih nyaman.

Baca Juga:   Backpacker Murah Bali–Singapura–Malaysia (4): Jejak Terakhir di Singapura dengan Teh Tarik, Kubah Emas, hingga Tiga Barang Adidas

Di area ini, kerusakan jalan pernah jauh lebih berat dibanding titik lain.

Karena kondisi itulah, saya sempat lama meninggalkan jalur pesisir dan kembali memilih poros utama Bontang–Samarinda. Apalagi saat itu kondisi poros utama relatif masih baik dan minim kerusakan.

Namun situasi berubah belakangan. Jalur utama kini justru sering bermasalah, bukan karena rusak, tetapi akibat lalu lintas kendaraan berat yang tak terkendali. Soal ini sudah saya tulis di bagian lain.

Jembatan di jalur pesisir Muara Badak dengan permukaan jalan yang sudah diperbaiki dan aman dilintasi kendaraan. Foto: Agus S

Kembali ke jalur pesisir Muara Badak.

Secara jarak, saya uji langsung menggunakan pengukur kilometer mobil. Titik nol saya ambil di simpang RSUD Taman Husada Bontang. Menuju arah Bontang Lestari, kondisi jalan sudah baik. Kalaupun ada kerusakan, hanya spot kecil dan tidak mengganggu laju kendaraan.

Setelah Kantor Wali Kota Bontang, yang beberapa tahun lalu jalannya cukup parah, kondisinya kini jauh berubah. Peningkatan jalan dengan rigid beton membuat permukaannya mulus, meski baru selesai satu jalur perbaikannya. Mendekati area conveyor memang masih ada beberapa bagian yang belum sempurna, tetapi saat saya melintas, perbaikan kembali terlihat berjalan.

Baca Juga:   Pupuk Kaltim Porwada 2025: Ketika Wartawan Menulis dengan Keringat dan Sportivitas

Memasuki wilayah Kukar, kondisi jalan terasa semakin konsisten. Ada beberapa titik perbaikan, tetapi hanya di bagian tertentu. Selebihnya, hampir sepanjang kurang lebih 80 kilometer hingga simpang Muara Badak, jalan relatif mulus dan nyaman dilalui.

Memang, jalur ini tidak memungkinkan laju kendaraan seperti poros utama. Kecepatan rata-rata tak bisa dipacu tinggi, terutama saat melewati kawasan permukiman. Namun justru di situ letak kenyamanannya.

Jalan lurus, tanpa tanjakan panjang, tanpa tikungan tajam, dan tidak menuntut konsentrasi ekstra seperti poros utama yang kini rawan kecelakaan dan macet mendadak.

Perjalanan terasa lebih santai. Tidak membuat tegang, juga tidak membosankan. Meski memutar, selisih jarak tempuh tidak terlalu jauh. Yang berbeda hanya waktu, sedikit lebih lambat. Namun itu harga yang masuk akal dibanding risiko terjebak berjam-jam hanya karena satu trailer melintang di tanjakan poros utama.

Pekerjaan perbaikan dan pelebaran jalan di salah satu titik jalur pesisir Muara Badak, bagian dari peningkatan infrastruktur tahun 2025. Foto: Agus S

Jalur pesisir Muara Badak sejatinya bukan sekadar jalan alternatif. Jalur ini merupakan koridor penting mobilitas warga pesisir, logistik lokal, hingga aktivitas ekonomi perikanan. Ruas ini menghubungkan Muara Badak, Marangkayu, hingga Bontang. Beban jalannya jelas tidak kecil.

Karena itu, perhatian pemerintah dalam dua tahun terakhir patut dicatat. Pada 2025, Pemprov Kaltim mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,7 miliar untuk perbaikan bahu jalan dan pelebaran di titik-titik kritis. Lebar bahu ditambah sekitar 1,2 hingga 1,5 meter, terutama di akses permukiman dan kawasan usaha yang padat aktivitas.

Baca Juga:   Penghapusan Denda PBB-P2 di Bontang: Niat Wali Kota Meringankan vs Birokrasi yang Membelit

Proyek ini memang sempat disorot. DPRD Kaltim menyinggung dugaan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi, bahkan disebut ada campuran air laut pada material tertentu. Akibatnya, sebagian pekerjaan harus dibongkar dan diperbaiki. Namun dari situ pengawasan diperketat, dan hasilnya kini mulai terasa di lapangan.

Pada 2026, pekerjaan belum berhenti. Pemerintah menargetkan perbaikan lanjutan sejak awal tahun, termasuk penanganan kerusakan struktural seperti retak buaya. Ada pula rencana peningkatan status beberapa ruas jalan kabupaten menjadi jalan provinsi, dengan potensi pelebaran hingga sembilan meter bila struktur badan jalan memungkinkan.

Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim juga telah meninjau langsung jalur pesisir Anggana–Muara Badak–Marangkayu–Bontang. Jalur ini dinilai penting karena menopang distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Dari pengalaman melintas langsung, saya melihat jalur pesisir Muara Badak kini bukan lagi jalan darurat. Jalur ini sudah menjadi pilihan rasional, terutama di tengah kondisi poros Bontang–Samarinda yang makin tak menentu. Memang memutar, tetapi lebih tenang, lebih bisa diprediksi, dan yang terpenting, lebih aman dari kejutan.

Kadang, jalan yang sedikit lebih jauh justru membawa kita sampai dengan selamat.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img