Berada di Martapura, Kalimantan Selatan (Kalsel), rasanya tak lengkap jika belum masuk ke Kawasan Sekumpul. Termasuk menunaikan salat di Musala Ar Raudhah dan berziarah ke makam Guru Sekumpul di Kubah Sekumpul.
Namun, datang tepat pada hari puncak haul seperti yang saya alami membuat hal itu nyaris mustahil, kecuali datang jauh-jauh hari dan menginap di kawasan tersebut. Tahun ini, puncak Haul Guru Sekumpul dilaksanakan Minggu malam, 28 Desember 2025. Dari informasi yang kami terima, pada puncak haul tersebut lebih dari 4,6 juta jemaah mengikuti rangkaian kegiatan di Kawasan Sekumpul dan sekitarnya.
Karena itulah, saya memilih datang kembali pasca haul. Senin (29/12) pukul 10.00 WITA, saya dan istri berangkat menggunakan sepeda motor dari Banjarbaru menuju Martapura. Tujuan awal kami Pasar Martapura. Google Maps mengarahkan ke beberapa jalur tembus, dan arus lalu lintas terlihat lancar.
Namun ketika jarak tersisa sekitar lima kilometer, perjalanan terhenti. Sejumlah ruas jalan masih terendam banjir. Kami sempat masuk ke Jalan Veteran, tetapi kendaraan tidak bisa melanjutkan.
“Tidak bisa lewat. Di dalam sudah sepinggang,” ujar seorang warga yang berjaga di lokasi.
Kami diminta memutar lewat Jalan Ahmad Yani, melewati RSUD Ratu Zalecha. Jalur ini lebih panjang, tetapi masih bisa dilalui. Siang itu, arus kendaraan cukup padat. Banyak mobil dan motor dari luar kota bergerak keluar Martapura.

Kami tiba di Pasar Martapura sekitar pukul 12.00 WITA. Di kawasan ini berdiri Masjid Agung Al Karomah, salah satu masjid tertua di Martapura. Masjid ini dikenal dengan empat tiang utama berbahan kayu ulin yang masih berdiri kokoh sejak dibangun pada 5 Desember 1897. Kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang keras dan tahan air, menjadi penyangga utama bangunan hingga hari ini.
Saya dan istri memilih menunaikan salat zuhur di Masjid Agung Al Karomah, sekaligus beristirahat dan menyusun kembali rencana perjalanan. Sekitar pukul 14.00 WITA, hujan turun cukup deras dan berlangsung hampir satu jam. Kami menunggu hingga hujan mulai reda.
Sekitar pukul 15.15 WITA, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sekumpul. Jalur ke arah kawasan ini relatif lancar. Tidak terlihat antrean panjang. Kemacetan sore hari justru terjadi di arah sebaliknya, menuju jalur keluar kota ke Samarinda.
“Macetnya dari tadi karena banjir bandang,” kata seorang warga di pinggir jalan.
Mendekati Kawasan Sekumpul, kendaraan tidak lagi diperbolehkan masuk. Relawan berjaga di mulut jalan. Motor dan mobil diminta parkir. Saya mengecek jarak ke Musala Ar Raudhah sekitar 230 meter. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki.

Sepanjang jalan menuju Sekumpul, suasana jauh lebih lengang dibanding malam puncak haul. Beberapa jemaah masih terlihat berjalan kaki. Spanduk penunjuk arah Kubah Sekumpul terpasang jelas. Di beberapa titik, relawan masih berjaga. Papan larangan dokumentasi mulai terlihat mendekati area musala.
Kami tiba menjelang waktu Asar. Saya diperbolehkan masuk untuk salat, sementara istri diminta menunggu di luar.
“Hanya laki-laki yang boleh masuk untuk salat. Perempuan menunggu di luar,” ujar petugas di pintu masuk.
Di depan gerbang juga terpampang pengumuman bahwa area kubah atau tempat ziarah masih ditutup. Musala Ar Raudhah tetap dibuka bagi jemaah yang ingin menunaikan salat.
Begitu masuk, saya memahami mengapa hampir tidak pernah ada dokumentasi dari dalam musala ini. Di area Musala Ar Raudhah, dilarang mendokumentasikan dan menjadikan konten dalam bentuk apa pun. Larangan tersebut tertulis jelas dan dijaga dengan ketat.

Saya tidak mengambil foto atau video. Musala Ar Raudhah masih dalam tahap renovasi. Beberapa bagian terlihat ditutup. Namun suasana di dalam tetap tertib. Jemaah datang, salat, lalu keluar dengan tenang. Tidak ada keramaian. Tidak ada aktivitas lain selain ibadah.
Usai salat Asar, saya keluar dari area musala. Di luar, beberapa jemaah duduk beristirahat. Ada yang menunggu keluarga, ada pula yang berbelanja di toko-toko sekitar yang menawarkan berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan salat hingga makanan.
Jalan kecil di Sekumpul masih basah oleh sisa hujan. Relawan tetap berjaga. Papan larangan dokumentasi terpasang di beberapa titik.
Saya tidak sempat masuk ke kubah. Namun bagi saya, bisa menunaikan salat di Musala Ar Raudhah sudah cukup. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk hadir dan menunaikan ibadah dengan tertib. (*)
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




