Saya belum pernah hadir langsung dalam Haul Guru Sekumpul di Martapura. Selama ini, saya mengenalnya lewat berbagai liputan media massa. Setiap tahun, jutaan jemaah datang.
Dari berbagai laporan media, Haul Guru Sekumpul telah berkembang menjadi peristiwa sosial besar yang melibatkan banyak orang. Skalanya sulit dibandingkan dengan kegiatan keagamaan lain di Indonesia.
Haul Guru Sekumpul selalu digelar pada 5 Rajab, bertepatan dengan hari wafatnya KH Muhammad Zaini Abdul Ghani. Tahun 2025 terasa berbeda karena dalam kalender Hijriah, tanggal 5 Rajab muncul dua kali dalam satu tahun Masehi. Karena itu, haul Guru Sekumpul tahun ini dilaksanakan dua kali.
Haul pertama berlangsung pada 5 Januari 2025, yang merupakan haul ke-20 dan bertepatan dengan 5 Rajab 1446 Hijriah. Pada pelaksanaannya, berdasarkan berbagai pemberitaan media, jumlah jemaah yang hadir mencapai jutaan orang.
Bahkan, berdasarkan data aktivitas jaringan seluler, jumlah perangkat aktif di wilayah Martapura dan sekitarnya pada puncak kegiatan disebut menembus lebih dari empat juta. Angka ini memberi gambaran besarnya arus jemaah yang bergerak menuju Martapura dalam waktu hampir bersamaan.
Haul berikutnya, atau haul ke-21, diperkirakan berlangsung pada akhir Desember 2025. Jika mengacu pada hitungan kalender Hijriah dan Masehi, 5 Rajab 1447 Hijriah bertepatan dengan 25 Desember 2025.
Namun, berdasarkan kebiasaan yang selama ini berjalan, peringatan tepat pada tanggal 5 Rajab umumnya lebih dahulu dilakukan di lingkungan internal keluarga.
Dalam praktiknya, pelaksanaan haul di Sekumpul tidak selalu persis mengikuti tanggal kalender. Puncak kegiatan haul kedua tahun ini kemungkinan besar digelar pada Minggu malam Senin, 28 Desember 2025.

Waktu ini bukan hal baru, karena malam Senin memang menjadi agenda pengajian rutin di Sekumpul, bahkan di luar momen haul.
Hingga beberapa hari terakhir, panitia maupun pihak Musala Ar-Raudhah Sekumpul belum merilis pengumuman resmi secara terbuka melalui kanal resminya. Karena itu, media masih menyebut tanggal tersebut sebagai perkiraan. Kepastian jadwal tetap menunggu pengumuman panitia.
Meski begitu, pergerakan jemaah sudah lebih dulu terlihat. Dari berbagai pemberitaan, rombongan dari berbagai daerah, termasuk dari luar pulau, mulai berdatangan sejak beberapa hari terakhir. Mereka tiba melalui jalur laut dan darat, disambut relawan, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke Martapura.
Ada yang datang bersama keluarga, dari orang tua hingga anak-anak. Tidak ada kewajiban hadir. Tidak ada undangan resmi. Yang ada hanya niat.
Besarnya kegiatan ini juga terlihat dari kesiapan pengamanan. Mabes Polri mengirim ratusan personel bantuan. Pengamanan tahun ini sepenuhnya diambil alih Polda Kalimantan Selatan, dengan dukungan ribuan personel gabungan TNI, Polri, pemerintah daerah, serta puluhan ribu relawan yang terdata.
Selain pengamanan, dukungan logistik juga disiapkan. Dapur lapangan, kendaraan penyedia air bersih, serta posko-posko layanan jemaah dioperasikan selama beberapa hari untuk memastikan kebutuhan dasar jemaah tetap terpenuhi.
Kedekatan jemaah ini tumbuh tak lepas dari perjalanan hidup Guru Sekumpul. Lahir dan besar dalam keluarga sederhana di Martapura, Guru Sekumpul menempuh jalan panjang menuntut ilmu sejak usia sangat muda, dan dikenal konsisten dalam dakwah yang menekankan akhlak, kesabaran, serta keteladanan hidup.
Sejak kecil, KH Muhammad Zaini Abdul Ghani dididik dalam lingkungan keluarga ulama. Ia belajar Al-Qur’an, ilmu agama, dan tasawuf dari banyak guru, baik di Kalimantan, Jawa, hingga Timur Tengah.
Pengajiannya bermula dari lingkar kecil di Kampung Keraton, lalu berkembang seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat.
Kehadiran Musala Ar-Raudhah di Kampung Sekumpul tidak lahir secara tiba-tiba. Tempat itu tumbuh perlahan mengikuti kebutuhan jemaah yang terus bertambah.
Dari pengajian rutin dan dakwah keliling, Sekumpul kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan yang dikenal luas, dibangun dari relasi yang terjaga antara guru dan jemaah.
Warisan ini masih terasa hingga hari ini. Bukan hanya pada pengajian yang terus berlangsung, tetapi juga pada haul tahunan yang dihadiri jutaan orang.
Dari situ pula bisa dipahami mengapa haul Guru Sekumpul terus membesar dari tahun ke tahun. Bukan karena promosi atau ajakan resmi, melainkan karena ikatan yang terbentuk secara alami. Banyak orang merasa dekat, meski tidak pernah bertemu langsung.
Dari situ pula muncul niat saya untuk hadir. Apalagi, Adhi Abdian, Kepala Kantor Media Kaltim Samarinda yang tahun lalu mengikuti haul, juga berencana kembali datang melalui jalur darat dan memulai perjalanannya hari ini.
Jika tidak ada halangan, saya memilih 28 Desember melalui jalur udara. Saya ingin melihat langsung bagaimana kegiatan keagamaan dijalankan dalam skala besar, tetapi tetap tertib. Tahun ini, saya ingin melihatnya dari dekat.
Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.




