Di Kuala Lumpur, saya memang tidak memasang target wisata tertentu. Kota ini sudah beberapa kali saya kunjungi, dan sebagian besar ikonnya pun sudah saya datangi.
Batu Caves sudah dua kali saya naiki tangganya yang panjang, dikerubuti merpati dan monyet yang seolah ikut mengawasi langkah. Genting Highlands meninggalkan kesan lewat kabut tebal dan dinginnya udara gunung. Di Cameron Highlands saya pernah memetik stroberi langsung dari kebunnya, sementara Putrajaya menawarkan jembatan-jembatan besar dan bangunan pemerintahan yang megah.
Karena itu, perjalanan kali ini sengaja tidak terburu-buru. Cukup menikmati satu ikon utama sebagai pembuka hari—KLCC. Sisanya, kami biarkan langkah kaki menentukan arah. Tidak mengejar banyak tempat, hanya menikmati Kuala Lumpur.
Dari Berjaya Times Square Hotel, kami memesan Grab menuju KLCC. Tarifnya sekitar RM12 atau kurang lebih Rp40 ribuan. Perjalanan singkat dan lancar. Setibanya di KLCC, suasananya langsung terasa familiar. Twin Towers memantulkan cahaya pagi, para turis sibuk memilih sudut terbaik untuk berfoto, dan area air mancur menjadi titik paling nyaman untuk berhenti sebentar menikmati pemandangan.
Tidak lama setelah itu, kami kembali ke hotel karena handphone istri tertinggal. Sekalian salat dan istirahat sebentar sebelum kembali melangkah keluar. Kami makan siang di mal Berjaya Times, lalu memutuskan menuju Chinatown.
Petaling Street seperti biasa penuh warna. Deretan kios padat, aroma makanan berbaur dari berbagai etnis, dan wisatawan bergerak tanpa henti. Kami berkeliling santai, menikmati suasana tanpa niat belanja banyak.
Dari Chinatown, kami naik Grab menuju Halab Cafe—restoran yang sempat viral karena posisinya tepat di bawah lintasan MRT. Banyak orang datang hanya untuk merasakan sensasi makan sambil melihat kereta melintas di atas kepala. Kami sekadar melihat-lihat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan utama: Space & Time Cube.
Lokasinya berada di lantai 3 Isetan The Japan Store, Lot 10, Bukit Bintang. Saya sudah membaca banyak ulasan: konsep imersif 3-D tanpa kacamata, ruangan visual 720°, interaksi AR, hingga zona multidimensi yang dirancang menyerupai perjalanan lintas ruang-waktu. Tiketnya RM88, kebetulan sedang promo termasuk akses VR World: Rebuild Panorama.
Setelah membeli tiket, kami diarahkan ke tempat penitipan barang. Begitu pintu wahana terbuka, suasananya langsung berubah. Cahaya biru dan ungu menyelimuti ruangan, grafis dinamis bergerak di dinding dan lantai, dan musik ambient membuat langkah pertama terasa seperti memasuki dunia lain.
Di salah satu area, proyeksi dinosaurus muncul seolah melintas di depan kami; di sisi lain, meteor jatuh digambarkan dalam visual berdimensi. Lantainya interaktif—setiap langkah memunculkan pola baru. Beberapa lorong ilusi optik dibuat dengan panel tinggi, membuat ruang sempit terasa jauh lebih luas.
Ada zona fantasi yang penuh cahaya, ada pula area dengan grafis yang mengikuti gerakan tubuh. Kami sempat berhenti sekadar memotret, karena perpaduan warna dan refleksi digitalnya benar-benar menarik.
Bagian VR menjadi pengalaman yang paling kuat. Begitu headset terpasang, dunia sekitar lenyap dan berganti dengan lanskap raksasa yang terasa seperti perpaduan masa lalu dan masa depan. Saya dan istri serasa dibawa ke sebuah dataran luas—struktur-struktur tinggi menjulang, disusun layaknya bangunan megah berlapis, seolah terinspirasi dari peradaban kuno tetapi divisualkan dengan teknologi futuristik.
Pada satu momen, lantai digital di bawah kaki menampilkan lorong panjang seperti jalan masuk ke bangunan besar. Cahaya dari sisi-sisinya bergerak mengikuti langkah, memberi ilusi seolah saya benar-benar berjalan menuruni koridor batu raksasa.
Panel-panel virtual di dinding menampilkan pola geometris kuno yang berubah setiap kali saya menoleh. Mirip pengalaman memasuki ruang rahasia dalam piramid, tetapi dalam versi rekonstruksi modern.
Di adegan berikutnya, visual membawa saya naik ke struktur berundak. Tekstur dindingnya dibuat sedetail mungkin sehingga terasa seperti memegang permukaan batu tua yang berusia ribuan tahun. Ketika simulasi “menaikkan” saya ke titik tertinggi, bentangan lanskap digital terbuka lebar. Pemandangan dari ketinggian yang memberikan sensasi seperti melihat dunia dari puncak sebuah monumen bersejarah.
Efek suara bass rendah muncul setiap kali struktur itu berubah atau “dibangun ulang”. Getar frekuensi rendah ini membuat ilusi gerak terasa sangat nyata, seperti tubuh ikut bergeser mengikuti pergerakan ruang.
Meski tidak secara spesifik meniru Piramida Khufu atau dataran Giza, pengalamannya serupa dengan tur sejarah imersif. Membawa imajinasi pada reruntuhan besar, arsitektur monumental, dan proses rekonstruksi sebuah peradaban.
Gabungan visual, suara, dan ritme pergerakan membuat VR ini terasa hidup—lebih seperti berjalan menembus waktu daripada sekadar bermain gim.
Keluar dari wahana, hari sudah mulai gelap. Bukit Bintang semakin penuh aktivitas. Di satu sudut, sekelompok warga Indonesia duduk santai menikmati pengamen jalanan yang membawakan lagu-lagu Noah, Armada, hingga Wali. Mereka ikut bernyanyi pelan sambil tersenyum—suasananya hangat, akrab, seperti pulang sebentar di tengah kota besar.
Kami berjalan kaki mencari kopi Oriental yang letaknya tidak jauh dari Isetan. Setelah makan dan membeli kopi, kami kembali menuju hotel. Jaraknya tidak sampai satu kilometer; berjalan santai hanya 10 menit sambil menikmati malam terakhir di Kuala Lumpur—lampu neon, lalu lintas yang tidak pernah benar-benar sepi, dan energi khas Bukit Bintang.
Hanya dua malam di Negeri Jiran ini. Besok kami akan meninggalkan Kuala Lumpur dan melanjutkan perjalanan pulang. (bersambung)
Oleh: Agus Susanto S.Hut., S.H., M.H.











