215 Prajurit Yonzipur 17/Ananta Dharma Kembali ke Balikpapan Usai Tuntaskan Misi Kemanusiaan di Aceh

BALIKPAPAN — Sebanyak 215 prajurit TNI dari Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 17/Ananta Dharma, Kodam VI/Mulawarman, kembali ke Balikpapan setelah menuntaskan misi kemanusiaan di Provinsi Aceh. Mereka tiba di Pelabuhan Semayang, Rabu (18/3/2026), dan disambut melalui upacara resmi penuh khidmat.

Kedatangan para prajurit yang menggunakan KRI ADRI XCII BM ini menjadi penanda berakhirnya penugasan selama kurang lebih dua bulan sejak Desember 2025. Misi tersebut difokuskan pada percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana alam di sejumlah daerah di Aceh.

Penyambutan dilakukan oleh Pangdam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono yang diwakili Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan. Dalam sambutan Pangdam yang dibacakan Kasdam, disampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para prajurit di tengah situasi darurat.

“Hari ini kita menerima kembali prajurit Yonzipur 17/Ananta Dharma yang telah menuntaskan tugas kemanusiaan dengan penuh tanggung jawab. Di tengah keterbatasan, mereka hadir sebagai penguat harapan bagi masyarakat,” ujar Andy.

Selama penugasan, Satgas Yonzipur 17/Ananta Dharma mencatat capaian 100 persen dalam berbagai program pembangunan dan pemulihan. Kegiatan tersebut meliputi perbaikan dan pembersihan fasilitas umum, seperti dua masjid, dua sekolah, empat meunasah, satu pondok pesantren, satu yayasan, serta satu kantor desa.

Baca Juga:   Target Turunkan ATS, Disdikbud Kutim Perkuat Basis Data PAUD

“Prajurit juga mengerjakan pembangunan infrastruktur di sejumlah titik terdampak, di antaranya perbaikan jalan di Kampung Dewantara, Parit Kecamatan Samudera, penanganan jalan longsor di Kabupaten Gayo Lues, serta pembukaan akses jalan di Desa Sahraja Pante Bidari,” jelasnya.

Di sektor pembangunan jembatan, sejumlah proyek strategis berhasil dirampungkan, seperti jembatan Kuala Ili sepanjang 15 meter, abutmen jembatan Lukub Sabun sepanjang 22 meter, jembatan Bailey Bluka Tebuai sepanjang 15 meter, jembatan gantung Gampong Tengoh sepanjang 76 meter, serta jembatan Aramco Beluka Tebuai sepanjang 8 meter.

Tak hanya itu, prajurit juga membangun hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak, termasuk pembukaan lahan seluas dua hektare di Kecamatan Lapang serta pembangunan unit huntara di Kecamatan Agusan dan Kampung Cane Toa.

“Keberhasilan tersebut, mencerminkan peran TNI sebagai kekuatan yang tidak hanya tangguh dalam operasi militer, tetapi juga sigap dalam misi kemanusiaan,” tegasnya.

Usai kembali ke satuan, para prajurit diinstruksikan untuk melaksanakan konsolidasi, inventarisasi perlengkapan, serta pemeliharaan alat guna menjaga kesiapan menghadapi penugasan berikutnya.

Baca Juga:   Pimpin Apel Hari Otonomi Daerah, Wamendagri: Regulasi yang Menghambat Ekonomi Harus Dievaluasi

Kepulangan mereka bukan sekadar akhir dari sebuah misi, melainkan juga cerminan bahwa kehadiran prajurit di tengah masyarakat selalu membawa arti—menjadi jembatan harapan, sekaligus bukti nyata bahwa pengabdian lahir dari kepedulian yang tulus.

Penulis: Aprianto

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img